Anti-Tritunggal (disebut juga
Nontrinitarianisme) merupakan sebuah kepercayaan kristen yang menyatakan penolakan atas
doktrin Tritunggal, baik sebagian atau keseluruhan doktrin, karena dianggap tidak tercantum secara eksplisit di
Alkitab.
Keberadaan Tritunggal tidak dianggap penting sama sekali oleh semua penganut anti-Tritunggal.
Unitarian merupakan salah satu cabang dari anti-Tritunggal, yang menyatakan bahwa
Tuhan hanya memiliki satu kepribadian. Penganut anti-Tritunggal modern berbeda pendapat mengenai
Allah Bapa,
Yesus, dan
Roh Kudus.
Beberapa kepercayaan yang mendukung anti-Tritunggal telah ada sejak Yesus masih hidup, di antaranya
adopsionisme dan
Arianisme, yang bertahan hingga Tritunggal didefinisikan secara formal pada
Konsili Nicea I pada tahun 325.
[1] Anti-Tritunggal kemudian diperbaharui oleh
Gnostikme dari
Katharisme, yang muncul pada abad ke 11 hingga 13, di
Abad Pencerahan (abad 18), dan pada
Restorasionisme selama abad 19.
Bentuk kepercayaan
Semua penganut anti-Tritunggal meyakini bahwa doktrin di awal masa kekristenan (lihat
Masa Apostolik) bukanlah Tritunggal. Secara umum, anti-Tritunggal juga meyakini bahwa Kristen merupakan hasil dari campur tangan
Konstantinus I, baik secara langsung atau tidak langsung, dengan kompensasi menetapkan Kristen Tritunggal sebagai agama resmi pada
Kekaisaran Romawi.
Karena pada masa dimana ditetapkannya doktrin Tritunggal itu status
kristen melonjak secara dramatis (dari sebuah agama yang dilarang
menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi), anti-Tritunggal sering
mempertanyakan doktrin tersebut. Karena alasan yang sama pula,
Doa Syahadat Nicea—yang
salah satu isinya adalah doktrin Tritunggal—dianggap oleh
anti-Tritunggal sebagai sebuah dokumen politik yang penting, yang
merupakan hasil dari pengubahan doktrin asli menjadi doktrin yang
menguntungkan kekaisaran oleh para pemimpin
Gereja Katolik, sehingga gereja menjadi alat bagi Kekaisaran Romawi.
Meskipun penganut anti-Tritunggal pada masa Kekaisaran Romawi semakin
bertambah, namun saat itu Tritunggal mendapatkan sokongan penuh dari
Kekaisaran. Anti-Tritunggal berpendapat bahwa kepercayaan murni dari
kekristenan telah ditekan secara sistematis oleh kekaisaran hingga
mendekati kemusnahan, dan sebagai konsekuensinya, semua catatan sejarah
telah diubah, termasuk mungkin di dalamnya
Perjanjian Baru.
Penganut anti-Tritunggal secara garis besar bisa dibagi menjadi empat kelompok:
- Kelompok yang meyakini bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan hanya utusan Tuhan, atau rasul (sebagaimana dijelaskan dalam Yoh 17:3), atau seorang manusia yang diciptakan sempurna. Yang menganut paham ini di antaranya adalah Ebionit, yang mengganggap Yesus hanyalah utusan Tuhan sebagaimana Musa (seperti yang telah diramalkan sebelumnya pada Ulangan 18:14-22).[2][3] Arianisme,
yang populer di beberapa wilayah pada masa Kekaisaran Romawi, juga
dimasukkan ke dalam kelompok ini. Arianisme mengajarkan bahwa, berbeda
dengan Allah Bapa, Yesus tidak sama-sama kekal dengan Sang Bapa.
Golongan lainnya yang termasuk dalam kelompok ini adalah Monarkianisme.
- Kelompok yang berpendapat bahwa tiga pribadi pada Tritunggal adalah
tiga individu yang berdiri sendiri dan terpisah, namun dapat beraksi
bersama pada tujuan yang sama persis sebagai sebuah entitas monotheis.
Tujuan itu adalah menyelamatkan umat manusia, dan Yesus dipercaya telah
menerima perintah ketuhanan dari Allah Bapa sebelum penciptaannya. Yang
termasuk ke dalam kelompok ini adalah sebagian besar dari denominasi Mormonisme (Latter Day Saint), termasuk denominasi terbesarnya, Gereja Mormon (The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints).[4]
- Kelompok yang meyakini ketuhanan Allah Bapa dan Yesus, namun tidak
menerima eksistensi Roh Kudus. Yang termasuk ke dalam kelompok ini
adalah Gereja Tuhan (Church of God). Sebagai contoh, Living Church of God
mengajarkan bahwa "Roh Kudus merupakan esensi utama, kehendak, dan
kekuatan dari Tuhan. Dia bukanlah sebuah entiti. Dia adalah sifat yang
melekat pada Allah Bapa dan Yesus, dan keluar dari keduanya ke seluruh
penjuru semesta.[5] Kepercayaan seperti ini secara historis sering disebut sebagai Semi-Arianisme atau Dwitunggal (Binitarianisme).
Asal mula
Menurut buku
The Outline of History karangan H.G. Wells:
- "Kita dapat menyaksikan belakangan ini banyak penganut Kristen
yang terpecah belah tentang Tritunggal. Tidak ada sedikitpun bukti yang
menyatakan bahwa para rasul pernah mendengar kata 'Tritunggal' langsung dari Yesus."[6]
Penganut anti-Tritunggal berpendapat bahwa kepercayaan mereka telah
lebih dulu ada jauh sebelum Tritunggal menjadi doktrin. Debat di antara
kedua kubu—yang sama-sama mengajukan dasar Alkitab—lebih banyak berpusat
pada sifat
ketuhanan Yesus. Anti-Tritunggal berpendapat, Yesus bahkan merendah dan menolak disebut sebagai Anak Tuhan,
[7]
dan dia menjelaskan kedudukannya dengan menyatakan bahwa dia akan pergi
kepada "Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."
[8] Selain itu, Yesus juga menyatakan bahwa "hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa",
[9] dan juga ketika mengutip
Ulangan 6:4 pada
Markus 12:29 dia berkata, "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa."
Sebagaimana halnya penganut anti-Tritunggal, para ahli Alkitab yang meneliti mengenai
Yesus dilihat dari sudut pandang sejarah
selalu menekankan bahwa ajaran Yesus tidak pernah menyatakan bahwa
dirinya setara dengan Tuhan, dan tidak pula mengajarkan mengenai
Tritunggal (sebagai contoh,
Yesus Seminari (Jesus Seminar)).
Lafal dari
Doa Syahadat Nicea
menyatakan bahwa tiga oknum dalam Tritunggal adalah "setara"; ini
adalah ekspresi yang digunakan dalam doktrin Tritunggal. Sebagai
gambaran, mungkin dapat dibayangkan sebuah perusahaan yang dimiliki
bersama oleh beberapa orang, namun masing-masing pemilik memiliki peran
yang berbeda dalam menjalankan bisnis. Anti-Tritunggal menekankan pada
satu pernyataan Yesus yang menyangkal "kesetaraan", yaitu ketika Yesus
menyatakan secara eksplisit bahwa posisinya lebih rendah dari Allah
Bapa: "sebab Bapa lebih besar dari pada Aku (
Yoh 14:28)."
Sebagai informasi,
Doa Syahadat Nicea
dirumuskan kira-kira 300 tahun setelah Yesus wafat, sebagai akibat dari
konflik yang terjadi pada masa awal kekristenan. Anti-Tritunggal juga
menyatakan bahwa Alkitab telah mengingatkan umat Kristiani untuk
berhati-hati terhadap ajaran sesat buatan manusia (contoh:
Matius 15:9,
Efesus 4:14).
Hal-hal yang dipermasalahkan
Tidak masuk akal
Penganut Tritunggal sering menyatakan bahwa "doktrin Tritunggal
adalah sebuah misteri yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran
manusia yang terbatas."
[10][11][12]
Kritik terhadap Tritunggal berargumen bahwa "misteri" pada dasarnya
adalah salah satu bentuk dari ketidak-masuk-akalan. Yang dimaksud di
sini adalah klaim dimana Tuhan telah berbagi satu substansi ketuhanan,
yaitu "menjadi Tuhan", dan bahkan tidak ikut campur antara satu pribadi
dengan yang lainnya. Anti-Tritunggal menyatakan bahwa kerumitan dari
argumen penganut Tritunggal, yang memerlukan konsep
filosofi untuk dijelaskan, bertentangan dengan prinsip Alkitab mengenai kesederhanaan dan kejelasan dalam doktrin.
[13]
Menurut New Catholic Encyclopedia:
- “Hanya sedikit di antara guru-guru teologi Tritunggal di
seminari-seminari Katolik Roma yang pada suatu waktu tidak dipojokkan
oleh pertanyaan, ‘Tetapi bagaimana kita akan berkhotbah tentang
Tritunggal?’ Dan jika pertanyaan itu merupakan gejala kebingungan di
pihak para siswa, kemungkinan hal itu juga merupakan gejala kebingungan
yang serupa di pihak guru-guru mereka.”[14]
Kurangnya dasar dari Alkitab
Anti-Tritunggal juga berpendapat bahwa, untuk doktrin yang sedemikian
sentral dan fundamental dalam agama Kristen, doktrin Tritunggal sedikit
sekali didukung oleh Alkitab secara eksplisit. Bahkan beberapa
pendukung dari doktrin Tritunggal menyadari sedikitnya dasar dari
Alkitab mengenai doktrin tersebut.
[15] Sebagai contoh,
The New Catholic Encyclopedia menyatakan bahwa "Doktrin Tritunggal tidak diajarkan secara eksplisit di Perjanjian Lama,"
[15] dan juga "Perumusan mengenai 'Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi' tidak terbentuk secara kokoh,..hingga akhir abad ke 4."
[16] Selain itu,
Ensiklopedi Encarta
menyatakan bahwa, "Doktrin ini tidak diajarkan secara eksplisit di
Perjanjian Baru, dimana kata Tuhan hampir selalu merujuk kepada Allah
Bapa."
[17]
Encyclopedia Britannica
juga menyatakan bahwa, "Kata 'Tritunggal' dan doktrin Tritunggal secara
eksplisit tidak ada pada Perjanjian Baru. Yesus dan para pengikutnya
juga tidak memiliki keinginan untuk membantah pernyataan di Perjanjian
Lama: 'Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu
esa!' (Ulangan 6:4)."
[18] Anchor Bible Dictionary
menulis, "Pada Perjanjian Baru tidak ditemukan paradoks Tritunggal
mengenai eksistensi tiga pribadi—Allah Bapa dan Yesus dan Roh
Kudus—dalam satu Tuhan."
[19]
Pertanyaan yang sama—yaitu mengapa doktrin sentral pada agama Kristen
seperti Tritunggal tidak pernah dinyatakan atau diajarkan secara
eksplisit oleh Yesus sendiri—juga ditanyakan oleh sosok bersejarah pada
abad 16 seperti
Michael Servetus.
Dalam buku-bukunya, Servetus menyatakan bahwa dia menolak doktrin
Tritunggal, karena tidak berdasar kepada Alkitab, melainkan lebih
berdasar kepada ajaran
filsuf Yunani.
[20]
Dewan Kota Jenewa, selaras dengan putusan dewan-dewan kota Zürich,
Bern, Basel, dan Schaffhausen, menetapkan dia sebagai sesat dan
memutuskan untuk membakarnya di tiang hukuman.
Sifat Ketuhanan Yesus
Sebagian kelompok yang memperdebatkan doktrin Tritunggal dengan
menggunakan dasar Alkitab lebih terpusat kepada sifat ketuhanan Yesus.
Mereka yang menolak ketuhanan Yesus berpendapat bahwa, bahkan dalam
kapasitasnya sebagai guru, Yesus sendiri pun menolak disebut "yang baik"
untuk membedakan dirinya dengan Tuhan, karena menurut Yesus sebutan
"yang baik" hanyalah untuk Allah (Markus 10:17-18; Matius 19:16-17;
Lukas 18:18-19).
[21]
Selain itu, Yesus juga menyangkal sifat Maha Tahu sebagai Allah Anak,
"belajar menjadi taat" (Ibrani 5:8), dan juga menyatakan posisinya yang
tidak setara dengan Allah, "kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku
dan Allahmu" (Yoh 20:17), "Bapak lebih besar daripada Aku" (Yoh 14:28).
Argumen Elohim
Anti-Tritunggal menyanggah pernyataan bahwa kata "
Elohim"
menandakan kemajemukan, karena hampir di semua bagian dari Alkitab
"Elohim" selalu disandingkan dengan kata kerja tunggal. Anti-Tritunggal
berargumen bahwa penggunaan kata "Elohim" lebih ditujukkan sebagai
penghormatan kepada "Tuhan Yang Esa."
[22]
Lebih lanjut lagi, anti-Tritunggal juga beranggapan bahwa interpretasi
kata "Elohim" sebagai kata majemuk akan mengacaukan interpretasi bagian
lain dari Alkitab yang menyatakan Tuhan dengan kosakata non-majemuk
"El." Sebagai contoh, pada
Kejadian
17:1 Tuhan disebut dengan "El" (tunggal) dan Dia menyatakan bahwa
"Akulah Allah Yang Mahakuasa"; jika menggunakan interpretasi Tritunggal,
maka salah Satu Pribadi dari Yang Tiga telah merendahkan Dua Pribadi
yang lainnya dengan menyatakan bahwa Dialah Yang Mahakuasa (paling
berkuasa atas segala sesuatu).
[23]
Yesus menyatakan keterbatasannya dibanding Tuhan
Pernyataan Yesus bahwa "Bapa lebih besar dari diri-Nya" (Yoh 14:28),
dan "Yang mengetahui hari akhir hanyalah Bapa, bahkan malaikat- malaikat
di surga dan Anak pun tidak tahu" (Markus 13:32) sering ditekankan oleh
anti-Tritunggal. Selain itu, sifat ketuhanan yang "tanpa awal dan
akhir" dari Yesus juga dipertanyakan pada Kolose 1:15 (anak yang lahir
pertama) dan Wahyu 3:14 (permulaan dari ciptaan Allah). Ahli
teologi Kristen
juga menyatakan bahwa ayat-ayat Markus 10:18, Lukas 18:19, Matius
19:17, Markus 15:34, Matius 27:46, Yohanes 20:17, Efesus 1:17, 2
Korintus 1:3, 1 Petrus 1:3, Yohanes 17: 3, 1 Korintus 8:6, Efesus 4:4-6,
1 Korintus 12:4-6, 2 Korintus 13:14, 1 Timotius 2:5, Yohanes 14:28,
Markus 13:32, Filipi 2:5-10, 1 Korintus 15:24-28 adalah "teks yang
terlihat seperti menyiratkan bahwa kata Tuhan di situ bukan ditujukkan
untuk Yesus" dan "bukti negatif yang sering diabaikan Katolik dalam
menjelaskan Tritunggal."
[24]
Iglesia ni Cristo,
sebuah sekte Kristen yang bermula dari Filipina, menyatakan bahwa
"Yesus adalah Tuhan" adalah ajaran buatan manusia, sebuah dogma yang
tidak berdasar pada Alkitab, melainkan dibuat oleh
Gereja Katolik pada abad ke 4 melalu
Konsili Nicea. Mereka juga berpendapat bahwa Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali melalui Tuhan.
[25]
Yesus adalah manusia dan juga sekaligus Tuhan
Penganut Tritunggal, dan beberapa anti-Tritunggal yang mengakui sifat ketuhanan Yesus seperti
Modalisme,
berargumen bahwa kepercayaan mereka didasarkan pada kenyataan bahwa
Yesus ada sebagai Anak Bapa dalam daging manusia. Oleh karena itu, Yesus
adalah manusia dan juga sekaligus Tuhan, yang menjadi "lebih rendah
dari malaikat, demi keselamatan kita" (Ibrani 2:6-8, Mazmur 8:4-6) dan
yang mendapat cobaan sebagaimana manusia, namun tidak berdosa (Ibrani
4:14-16). Akan tetapi, sebagian dari anti-Tritunggal menyanggah argumen
tersebut dengan berpendapat bahwa daging manusia dari Anak adalah
terbatas hanya selama kehidupan duniawi, meski pendukung Tritunggal
berpendapat bahwa Yesus tetap pada sifat manusiawinya setelah
kebangkitannya. Selain itu, pada 1 Korintus 11:3 ("Kepala dari Kristus
ialah Allah") disebutkan posisi Yesus yang tidak setara, melainkan di
bahwa Allah Bapa. Ditambah lagi, mereka mengutip Kisah 5:31 dan Filipi
2:9 yang menunjukkan bahwa Yesus menjadi agung setelah kenaikan ke
surga, dan Ibrani 9:24, Kisah 7:55, 1 Korintus 15:24, 28, yang
mengungkapkan tentang Yesus sebagai pribadi yang berbeda setelah
kenaikanNya ke surga.
[26]
Terminologi
Tidak ditemukan pada Alkitab
Kristen
Unitarian,
Restorasionis,
dan beberapa golongan lainnya meragukan doktrin Tritunggal karena
bersandar pada kosakata yang tidak terdapat dalam Alkitab. Kata
"Tritunggal" tidak ditemukan di bagian Alkitab manapun.
[27] Selain itu, angka tiga yang ditemukan dalam Alkitab juga sama sekali tidak pernah berkaitan dengan Tuhan
[28], kecuali pada bagian Alkitab yang telah dihapus sejak akhir abad 19 karena dipertanyakan keasliannya,
Comma Johanneum (1 Yoh 5:7-8).
[29]
Anti-Tritunggal juga berargumen bahwa satu-satunya angka yang berkaitan
dengan Tuhan dalam Alkitab hanyalah angka Satu, sehingga Tritunggal
yang menjelaskan Tiga oknum Tuhan bukanlah berdasar pada Alkitab.
Beberapa contoh istilah lainnya yang tidak ditemukan di dalam Alkitab
adalah beberapa "Pribadi" dalam kaitannya dengan Tuhan, istilah "Anak
Allah" dan "Allah Roh Kudus", dan "Anak Allah yang Tunggal". Sebagai
contoh, dasar dari ajaran Tritunggal adalah bahwa Tuhan terdiri dari
tiga pribadi (
hipostasis).
Istilah hipostasis yang merujuk kepada Allah ini hanya digunakan satu
kali dalam Alkitab (Ibrani 1:3), yang menyatakan bahwa Yesus adalah
merupakan gambaran instan dari Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Alkitab
tidak pernah menggunakan istilah ini untuk hal yang berkaitan dengan
Roh Kudus dan tidak pernah secara eksplisit menyebutkan bahwa Anak merupakan hipostasis yang berbeda dari Bapa.
[30]
Hasil pemikiran Konstantin
Tentang istilah penting dalam Tritunggal,
homoousios (esensi yang sama antara Anak dan Bapa), yang diperkenalkan ke dalam
Kredo pada
Konsili Nicea Pertama,
Pier Franco Beatrice menyatakan: "homoousios merupakan hasil pemikiran langsung dari
Konstantin yang berlatar belakang
Hermetisisme.
Plato yang dijadikan dasar oleh Konstantin hanyalah untuk menampung aspirasi rakyat Mesir. Selain itu, Teologi Hermetik
konsubstantialitas, yang berbicara mengenai hubungan antara Logos-Anak dengan Nous-Bapa, hanyalah berputar balik kepada argumen tradisional
apologetik.
Konstantin telah mencoba menjelaskan teologi Plato dengan dasar
Hermetismenya, yang menjadi alasan bagi sang kaisar untuk memasukan
istilah
homoousios pada Doa Syahadat Nicea."
[31]
Penganut Tritunggal mempertahankan hasil pemikiran Konstantin
tersebut, karena beranggapan bahwa pemikiran tersebut berdasar pada
Alkitab. Selain itu, pemikiran tersebut merupakan tambahan yang
diperlukan pada
Era Nicene untuk melawan doktrin
Arianisme.
Ayat-ayat Alkitab yang dianggap bertentangan dengan Tritunggal
Di antara ayat-ayat
Alkitab yang dikutip para penentang Tritunggal adalah ayat-ayat yang menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu
Allah Bapa.
Ayat-ayat lainnya menyatakan bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa.
Meskipun para penganut Tritunggal berpendapat bahwa
kontradiksi-kontradiksi tersebut adalah bukti dari
misteri dan
paradoks
dari Tritunggal itu sendiri, anti-Tritunggal berargumen bahwa sedikit
sekali—jika bukan sama sekali tidak ada—ayat-ayat Alkitab yang mendukung
Tritunggal. Berikut adalah sebagian dari daftar yang dianggap
bertentangan dengan konsep Tritunggal.
Hanya ada satu Tuhan
- Matius
4:10 : "Maka berkatalah Yesus kepadanya: 'Enyahlah, Iblis! Sebab ada
tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia
sajalah engkau berbakti!.'"
- Yohanes
17:3 : "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal
Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang
telah Engkau utus."
- 1 Korintus
8:5-6 : "Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga,
maupun di bumi—dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan"
yang demikian.
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari
pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu
Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah
dijadikan dan yang karena Dia kita hidup."
- 1 Timotius 2:5 : "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,"
- Yakobus
2:19: "Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!
Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar."
Anak dan Bapa tidak setara
- Markus
13:32 : "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu,
malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."
- Yohanes
14:28 : "Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku
pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku,
kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa
lebih besar dari pada Aku."
- Yohanes
17:20-23 : "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga
untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam
Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya
dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah
memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku,
supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam
mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar
dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau
mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku."
- Yohanes
20:17 : "Kata Yesus kepadanya: 'Janganlah engkau memegang Aku, sebab
Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku
dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada
Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.'"
- Kisah Para Rasul
7:55-56 : "Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke
langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan
Allah. Lalu katanya: 'Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak
Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.'"
- Kolose 1:15 : "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,"
- 1 Korintus
15:24-28 : "Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan
Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan,
kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai
Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh
yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Sebab segala sesuatu telah
ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala
sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah
menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di
dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah
Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah
Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah
menjadi semua di dalam semua.