Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Juli 2014

Langkah

Ada kalanya hidup mempertemukan diri dengan kebimbangan
Mungkin bukan ada kalanya
Tapi, selalu.

Sebab hidup ialah memilih
Memilih antara bertindak atau diam atau bahkan menghindar untuk sementara
Lalu ditemukan kembali dengan cara tak terduga

Janganlah lagi keluhan jadi biasa
Hidup bukan untuk dikeluhkan
Hidup hanyalah untuk dihadapi

Bila iman sudah menimbun di dada

Tak satupun kan sia-sia
Tiap langkah jadi mudah
Tiap pilihan jadi begitu sederhana ; sesuai atau tidak sesuai

Sedang cinta hanyalah berkas yang lekas hilang
Dimusnahkan waktu dimakan angin lalu
Memilih ikhlas dan sabar jadi penentu


Muharram, malam 1 syawal 1435 h

Sabtu, 19 Juli 2014

kekalahan

Saya mengerti kenapa harus seperti ini akhirnya
Sebab menerima kekalahan ialah sebuah keharusan
Keharusan yang dipaksakan saya terima

Saya mencoba untuk ikhlas
Saya terus mencoba untuk menerima, dan
Saya masih mencoba untuk merelakan bukan melupakan

Sebab melupakan ialah penyangkalan
Penyangkalan hanya menghasilkan kepedihan yang kian mendera
Mengiba jadi bahan sehari-hari yang tak pernah saya mau

Jadi tolonglah,
Jangan menari didepan saya
Lukanya masih basah
Saya tak ingin kepenatan ini jadi amarah
Karna ia hanya menghasilkan bencana

Sekali lagi tolong
Hentikan tarian itu untuk sementara!


Muharram, 20 juli 2014
Untuk calon presidenku

Sabtu, 28 Desember 2013

Narti Sendiri


Narti Sendiri

Bapak, malam t'lah larut
detaknya mencapai dua
tapi kau belum sampai jua
aku rindu.
aku kangen dengan bau keringat dan asap
dari tubuhmu.

tadi pagi kau berangkat lebih awal
adik minta sepatu baru
ia merengek sejak seminggu lalu
tumitnya terbuka ia jadi malu
sekolah mengoloknya karena ia tak mampu

diluar agak gerimis,
rintiknya bermusik di genting kita
apakah kau lupa penutup kepalamu?
jangan sakit, bapak
aku tak mampu sendiri
jadi buruh cuci takkan mampu untuk bernafas

bapak, tadi sore yang punya rumah
minta uang sewa.
telah enam kali aku bilang besok
bu Haji ini marah. mengumpat
mengancam mengusir kita

tetangga tak ada peduli
mereka sama diumpat, diolok,
diancam ole hidup

ah,..
ingatkah kau ketika dulu.
dulu sekali,
ketika kau lamar aku
hari itu kau datang dengan sarung
dan peci lusuh terbaikmu
dengan tegas kau bicara
"Pak, saya ingin melamar Narti"
malam itu aku tersipu
tak tahan merasakan lagi janjimu

kau menepatinya,
kau bawa aku ke kota
kita tidur di stasiun berdua
makan sehari sekali kita berdua
hingga rebutan raskin pun kita berdua
sampai saat ini
ditengah gerimis dan tahi ayam
aku masih merasakan bara sayang itu

tong! tong! tong! ting! tung! tang! tang!
ada ribut-ribut di luar
aku longokkan kepala menembus jendela
orang lalu lalang sambil berlari gila
ada yang bawa kasur, TV, lemari,
kursi, tikar, bantal, hingga parabola.
mereka pada teriak kebakaran!
kebakaran! kebakaran! kebakaran!
anak-anak jadi bangun.
aku lihat api marah merah

ku suruh saja pergi ke depan gang.
mereka langsung lari tak peduli.
tak sempat cium kening atau salam.

bapak, aku masih menunggu sendirian
persis seperti yang kau minta.
Narti menunggumu,pak.

muharram, 25 Juni 2010.
-refleksi cinta dan ketulusan-

Dua Jalan Bercabang


Dua Jalan Bercabang

Dua jalan bercabang di hutan yang menguning
maaf aku tak bisa melewati dua-duanya
sebagai satu-satunya pengelana, lama aku berdiri
menatap salah satunya sejauh mungkin
sampai jalan itu berbelok di semak-semak.

lalu kupilih jalan yang lain, sama rupa dan wujudnya,
mungkin malah tampak lebih baik,
karena jalan itu berumput dan ingin dipijak;
meski lalu-lalang ditempat itu
telah sama-sama mengubah keduanya

pagi itu dua jalan sama-sama terbentang
tertutup daun-daun yang tak pernah terinjak.
oh, kusimpan yang satu untuk lain hari!
meski melihat dari pengalaman,
aku ragu apakah aku akan kembali.

dengan berat aku bercerita
pada masa yang teramat lampau:
dua jalan terbentang di hutan, dan aku...
aku memilih jalan yang jarang dilalui orang,
dan pilihanku sudah membuat perbedaan besar

2010

Terpendam


Terpendam

aku pendam dendam di pekarangan hatiku
tak ada yang tahu. aku hanya diam
dan tersenyum

ketika tiap lubang tanah telah terisi
aku rsa sesak sungguh. makin jadi saja
tak pernah ada tetangga yang rela
bahkan takkan mampu,
menampung tiap bara sedingin pelukan kematian

aku sendiri

sesak. aku pilih asap penuh asbak
ketika asap tak lagi mampu
aku memlih pergi sendiri
diam menunggu petaka yang lebih gila kerna sepi

-muharram, jan 10-

Mesti


mesti

lihatlah sekali lagi,sayang.
bayi manis ini mesti menyingkir.
hidup kita mesti berlanjut bahagia.

sayang, jangan lagi kau pura-pura cinta padanya
bayi terbelit ari ini akan baik saja.
kita kasih dia tempat baik.
tas jinjing merah coklat dengan motif bunga sakura musim gugur

sepakat sudah
jabat tangan sudah
tetapkan hati mesti
berdoa bahagia kita mesti

sayang, biar kan bayi yang blum sempat kita
potong arinya ini pergi
biarkan saja dia diambil orang
atau mati biru dalam tas ini

mesti

oleh Baba Muharram pada 20 Agustus 2011 jam 14:27

Rabu, 07 Agustus 2013

"cukuplah hatimu menyentuh hatiku"

ada sejuta wanita bersenandung mesra
mengisahkan bahagianya mereka beristri rahwana
tiap-tiap wanita ini begitu syahdu suaranya
seakan tiap nada ialah penyatuan dirinya dan sang dasamuka

mereka bukan kaum wanara atau manusia biasa
mereka ialah istri para pandita
wanita suci yang samadi tiap bulan  pada hari ke dua
bidadari para manusia biasa

sinta berdiri diantaranya
setelah setahun disekap dalam istana rahwana
ia mengaku suci tak terjamah
tapi ia tak mengaku bahwa ia tresna pada dasamuka

sinta terlalu malu mengakui bahwa dasamuka
lebih tampan dan berwibawa dari sang Rama
ia terlalu sungkan karena telah dibela sang Rajawali hingga tiada
rajawali malang yang mengira sinta menjerit takut padahal ia bahagia

ada sejuta wanita berdoa bertemu rahwana
berharap malamnya terisi kembali oleh cinta
cinta akibat pesona rahwana yang bijaksana

bagaimana bisa si Dasamuka lebih bijaksana dari sang Rama?
bagaimana penilaian wanita tentang budi rahwana dan rama?
hanya sejuta wanita itu yang tahu
hanya sinta saja yang tahu

bagaimana ia merayu sejuta wanita hanya dengan senyuman
tanpa pedang, otot, dan seribu anak panah
ia hanya selalu bertanya sekali pada tiap sejuta wanita
"apakah aku cukup untuk mencintaimu?"
"tanpa panah, rajah cakra, dan istana"
dan sejuta wanita itu serempak menjawab
"cukuplah hatimu menyentuh hatiku sekali"
"akan kuberikan segala ditiap nafas berjumpa denganmu, wahai ksatria dasamuka"

para pandita diam
rama pun diam
mereka sibuk mengarang cerita tentang buruknya laku dasamuka
mereka kalut membela harga diri sebagai lelaki dan suami
bukan mencoba mengerti tiap sejuta wanita


-muharram, 7 agustus 2013-

Selasa, 28 Mei 2013

Satu-satunya

aku memiliki sebuah kebun cinta dipekarangan htiku.
bunga dan perdu silih ganti hidup dan mati.
ada yang mekar hingga berbuah, namun
ada pula yang mati sebelum mengakar.

kini tamanku berbunga tak ada
tak ada pula perlu hijau yang cantik
hanya sebuah pohon jambu biji disana
jambu merah yang memerahkan tiap darah dalam jiwaku

sebuah pohon yang tak ku tahu keberadaannya dulu
namun kini memenuhi halaman hatiku dengan tumpukan daun jatuh
daun yang mengering dan kubakar, menjadikannya bara
yang menghangatkan hatiku dengan bara rindu

aku tahu, kau akan berbuah dan menjagaku dari terik matahari
akupun akan menjagamu, memberikan yang terbaik semampuku

tuhan, jadikan aku pemilik kebun hati paling bahagia
dengan dirinya sebagai satu-satunya yang ku jaga

muharram 2011
#pertama kali diterbitkan  dalam undangan pernikahan kami, muharram & nurul

Sabtu, 25 Mei 2013

Dermaga


Dermaga

Aku pergi, Ibu.
Mencari payau di pantai-pantai sepi
Tempat benih tumbuh jadi apa saja yang dimau
Tak ada jerat, hardik atau cambuk
Disama segalanya berjalan dengan semestinya.

Dengan angin aku kabarkan peluhku
Membangun dermaga yang tak kunjung usai
Pelabuhan sederhana yang kupintal dari mimpi
tempat aku menunggu kasih dan alamt pulang
Ketika ku di lepas lautan.

Disini air payaunya berwujud biru, Ibu
ikan-ikan berenang bebas tanpa takut kail.
batu-batu lumut laut tmbuh dengan wajar
tak ada yang merasa ditindas atau menindas.
semua merasa ada karena tanggung jawab

Dermaga ku tak megah, Ibu
Hanya beberapa tumpuk kayu
yang mati karena tua
bukan karena aku matikan paksa
mereka datang padaku dengan rela bersama riak sungai
mengiyakan jasatnya untukku melangkah.

Tak ada mercusuar tinggi di dermagaku
hanya ada aku sebagai pelita
tempat segala cahya mengambang jadi pelangi
terang gelapnya lihat laku ku

Ibu, sayangnya dermaga ini hanya bisa kau singgahi
takkan pernah bisa kau miliki
darimulah aku mengerti bagaimana ini semua ada

Dermagaku menunggu satu rusuk yang khilaf dariku
rusuk yang kan menemaniku
membangun dermaga ini jadi lebih nyata dan ada
tempat cucu-cucumu berlari main api, main hasut, main curi
2009