aku memiliki sebuah kebun cinta dipekarangan htiku.
bunga dan perdu silih ganti hidup dan mati.
ada yang mekar hingga berbuah, namun
ada pula yang mati sebelum mengakar.
kini tamanku berbunga tak ada
tak ada pula perlu hijau yang cantik
hanya sebuah pohon jambu biji disana
jambu merah yang memerahkan tiap darah dalam jiwaku
sebuah pohon yang tak ku tahu keberadaannya dulu
namun kini memenuhi halaman hatiku dengan tumpukan daun jatuh
daun yang mengering dan kubakar, menjadikannya bara
yang menghangatkan hatiku dengan bara rindu
aku tahu, kau akan berbuah dan menjagaku dari terik matahari
akupun akan menjagamu, memberikan yang terbaik semampuku
tuhan, jadikan aku pemilik kebun hati paling bahagia
dengan dirinya sebagai satu-satunya yang ku jaga
muharram 2011
#pertama kali diterbitkan dalam undangan pernikahan kami, muharram & nurul
Tampilkan postingan dengan label puisi ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi ibu. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Mei 2013
Rabu, 19 Desember 2012
Jagung Bakar Arang
ibu,
kali ini aku bawa sebelas jagung
yang kau bakar dengan bara seadanya
semoga laku tinggal bakulnya saja
aku tahu kau menahan panas
percikan bara arang hanya untuk hidupku
kehidupan yang tercipta dalam tubuh legammu
ibu,
kemarin sore hujan gerimis
aku lihat Siti dan kawan-kawan
jalan-jalan di trade center
manis betul dia
ia bawa tas cantik berkilau
dengan tas jinjing penuh belanja
aku hanya tersenyum malu
berjalan lurus dengan membungkuk
berusaha menghilangkan bakul penuh jagung
aku hanya merasa malu,ibu
aku iri padanya, ibu
Siti. gadis tetangga yang bisa mengecap
manisnya cinta SMA
hanya karena bapaknya masih ada
masih menafkahi ibunya
Siti. gadis tetangga yang pakai tas cantik
dan tas jinjing penuh belanja
aku iri, malu dan menangis dalam senyum sore grimis itu.
ibu,
tabungan kita sudah berapa?
cukupkah untukku kembali sekolah?
sebab beasiswa hanya untuk yang pandai dan tidak beruang
sementara aku hanyalah gadis muda tak pandai dan tak beruntung
tapi aku juga masih punya cita-cita, ibu
ya, ibu
cukup sajalah aku sekolah
tak perlu tas cantik
tak perlu tas jinjin penuh belanja
apa aku makin menyesakkan dadamu,ibu?
aku bertanya bukan untuk menindihmu makin berat
aku hanya ingin tahu seberapa dekat aku dengan mimpi
mimpi kembali mengenakan seragam kelabu
mimpi memakai kembali sang sepatu usang
mimpi saat semut-semut bertanya apakah aku sedang jatuh cinta
aduh!
sial betul kaki telanjang ini
kenapa tak lihat putung rokok masih membara
hingga telapak kaki ini mesti melepuh
mekar seperti jagung bakar yang matang
ibu,
boleh aku minta satu hal lagi?
aku ingin bapak kembali
agar ia menikahkan aku dengan syariat yang benar
menjadikan aku sepertimu
dirimu, ibu
wanita yang memilih menjadi ibu pembakar jagung
wanita yag senang hati menjadi penitipan kehidupan
kehiupan diantara paha dan dadamu
aku ingin menderita sepertimu,ibu
bahkan lebih hebat
menderita karna bara dan jagung bakar tak laku
menderita karna hinaan tukang tagih hutang
menderita karna dinginnya malam di bawah pohon
tiap hari kita terlelap
muharram, 7-20 desember 2012
kali ini aku bawa sebelas jagung
yang kau bakar dengan bara seadanya
semoga laku tinggal bakulnya saja
aku tahu kau menahan panas
percikan bara arang hanya untuk hidupku
kehidupan yang tercipta dalam tubuh legammu
ibu,
kemarin sore hujan gerimis
aku lihat Siti dan kawan-kawan
jalan-jalan di trade center
manis betul dia
ia bawa tas cantik berkilau
dengan tas jinjing penuh belanja
aku hanya tersenyum malu
berjalan lurus dengan membungkuk
berusaha menghilangkan bakul penuh jagung
aku hanya merasa malu,ibu
aku iri padanya, ibu
Siti. gadis tetangga yang bisa mengecap
manisnya cinta SMA
hanya karena bapaknya masih ada
masih menafkahi ibunya
Siti. gadis tetangga yang pakai tas cantik
dan tas jinjing penuh belanja
aku iri, malu dan menangis dalam senyum sore grimis itu.
ibu,
tabungan kita sudah berapa?
cukupkah untukku kembali sekolah?
sebab beasiswa hanya untuk yang pandai dan tidak beruang
sementara aku hanyalah gadis muda tak pandai dan tak beruntung
tapi aku juga masih punya cita-cita, ibu
ya, ibu
cukup sajalah aku sekolah
tak perlu tas cantik
tak perlu tas jinjin penuh belanja
apa aku makin menyesakkan dadamu,ibu?
aku bertanya bukan untuk menindihmu makin berat
aku hanya ingin tahu seberapa dekat aku dengan mimpi
mimpi kembali mengenakan seragam kelabu
mimpi memakai kembali sang sepatu usang
mimpi saat semut-semut bertanya apakah aku sedang jatuh cinta
aduh!
sial betul kaki telanjang ini
kenapa tak lihat putung rokok masih membara
hingga telapak kaki ini mesti melepuh
mekar seperti jagung bakar yang matang
ibu,
boleh aku minta satu hal lagi?
aku ingin bapak kembali
agar ia menikahkan aku dengan syariat yang benar
menjadikan aku sepertimu
dirimu, ibu
wanita yang memilih menjadi ibu pembakar jagung
wanita yag senang hati menjadi penitipan kehidupan
kehiupan diantara paha dan dadamu
aku ingin menderita sepertimu,ibu
bahkan lebih hebat
menderita karna bara dan jagung bakar tak laku
menderita karna hinaan tukang tagih hutang
menderita karna dinginnya malam di bawah pohon
tiap hari kita terlelap
muharram, 7-20 desember 2012
Minggu, 15 Juli 2012
Ayah Ibu
Ayah Ibu
ayah,...
bolehkah ku sebut namamu?
rindu ini telah membuncah, ayah
rindu pada ibunda yang melahirkan aku
ayah,...
bisakah ku bertemu ibu malam ini?
malam-malam yang lalu itu penuh resah
sepi dan dingin tanpa kasih yang selimuti
ayah,...
ini permohonanku padamu
izinkan aku menemuinya sekali saja di fajar yang cerah
di langit yang bersinar manja madu.
ayah,...
bisakah kupanggil kau dengan ayah?
kau lelaki yang mengilhami ragaku
ibu yang mengerami jiwaku.
bolehkah ku sebut namamu?
rindu ini telah membuncah, ayah
rindu pada ibunda yang melahirkan aku
ayah,...
bisakah ku bertemu ibu malam ini?
malam-malam yang lalu itu penuh resah
sepi dan dingin tanpa kasih yang selimuti
ayah,...
ini permohonanku padamu
izinkan aku menemuinya sekali saja di fajar yang cerah
di langit yang bersinar manja madu.
ayah,...
bisakah kupanggil kau dengan ayah?
kau lelaki yang mengilhami ragaku
ibu yang mengerami jiwaku.
Jumat, 30 Maret 2012
Penyanyi Malam
bu, ini sudah malam
silahkan pulang dulu
nanti pagi-pagi sekali sudah harus disini, tapi
malam ini suara ibu habiskan
besok malam kan datang kembali
sedang besok pagi pun suara tak pakai
sebab tangan dan badan jadi haluan
bu,
nasi bungkusnya jangan lupa dibawa
anggap saja sarapan sekaligus makan malam
saur dan berbuka
biar badan yang sendiri itu sepi saja
kan tak ada orok lagi yang kembali
kan tak ada suami lagi yang keloni
kan hampa saja hidup bila tak kerja begini
jadi pelayan kasar di pagi jelang senja
jadi pelayan suara di senja jelang pagi
Ibu, nyanyikan sekali lagi
Muharram. 13 maret 2012
silahkan pulang dulu
nanti pagi-pagi sekali sudah harus disini, tapi
malam ini suara ibu habiskan
besok malam kan datang kembali
sedang besok pagi pun suara tak pakai
sebab tangan dan badan jadi haluan
bu,
nasi bungkusnya jangan lupa dibawa
anggap saja sarapan sekaligus makan malam
saur dan berbuka
biar badan yang sendiri itu sepi saja
kan tak ada orok lagi yang kembali
kan tak ada suami lagi yang keloni
kan hampa saja hidup bila tak kerja begini
jadi pelayan kasar di pagi jelang senja
jadi pelayan suara di senja jelang pagi
Ibu, nyanyikan sekali lagi
Muharram. 13 maret 2012
Langganan:
Postingan (Atom)