Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Juni 2013
Belum Cukup Usia, Jangan Paksa Anak Sekolah
KOMPAS.com — Lantaran ingin buah hatinya siap dalam menghadapi dunia pendidikan dan cepat mahir, banyak orang tua berlomba mendaftarkan anaknya untuk mengenyam bangku pra-sekolah. Bahkan, terkadang orang tua langsung memasukkan anak ke sekolah dasar (SD), padahal usianya belum sampai enam atau tujuh tahun.
Psikolog anak, Roslina Verauli, mengatakan bahwa usia harus menjadi pertimbangan orang tua dalam mengambil keputusan untuk memulai pendidikan formal pada anak. Pasalnya, jika anak dipaksa bersekolah saat usianya belum sesuai maka dampaknya kurang baik ke depannya.
"Lihat usianya dulu. Jangan dipaksakan. Karena teman seusia atau sebaya dalam satu kelas itu bisa membuat mereka frustrasi," kata Roslina kepada Kompas.com, Senin (14/1/2013).
Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa ada anak-anak yang mampu menyesuaikan diri dan belajar bersama dengan teman yang usianya lebih tua. Contoh saja, siswa kelas satu SD biasanya berusia enam hingga tujuh tahun, tapi ada anak berusia lima tahun sudah duduk di bangku SD dan kemampuannya setara.
"Memang awalnya bisa. Tapi itu untuk saat ini saja. Kita harus lihat efek ke depannya," jelas Roslina.
"Sekarang kelas satu masih bisa sama dan mengejar pelajaran. Tapi saat kelas empat nanti, teman-temannya sudah memasuki fase yang berbeda karena beda usia. Ini akan membawa pengaruh bagi anak tersebut," imbuhnya.
Untuk itu, orang tua harus melihat usia buah hatinya. Jika memang masih terlalu kecil maka akan lebih bijak untuk memilihkan taman bermain yang sesuai karakternya. Meski terkadang anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung pada usia dini, hal itu bukan jaminan anak siap bersekolah.
Dalam hal ini, yang perlu dikembangkan adalah pengajaran dari orang tua di rumah dan komunitas yang tepat bagi anak untuk bermain dan berinteraksi. Orang tua bisa terus mengasah kemampuan membaca dan menulis anak dengan sederhana.
Hal utama yang tak boleh terlupakan adalah mengenali kebutuhan anak Anda. Tak hanya soal kebutuhannya yang terkait usia, tetapi juga keunggulan dan kelemahannya, juga kesenangannya. Lalu, libatkan anak dalam menentukan sekolah yang tepat.
Senin, 22 April 2013
Mahasiswa, oh, mahasiswa
menertawakan dirimu
yang teriak lantang tolak anarki
dengan membakar bendera dan mobil
menertawakan dirimu
yang menolak aturan moral
dengan merekam tiap sudut intim dengan kekasih
menertawakan dirimu
yang meminta transparansi duit
dengan membanting kaca dan meja hasil uang jelata
menertawakan dirimu
yang beorasi tentang kedamaian
dengan menutup jalan hingga sesak menjadikan kami lebih susah bekerja
menertakan dirimu
yang diam tak peduli
hanya berkacak pinggang dengan kekasih dipeluk
mahasiswa,
oh, mahasiswa
Muharram, April 2013
yang teriak lantang tolak anarki
dengan membakar bendera dan mobil
menertawakan dirimu
yang menolak aturan moral
dengan merekam tiap sudut intim dengan kekasih
menertawakan dirimu
yang meminta transparansi duit
dengan membanting kaca dan meja hasil uang jelata
menertawakan dirimu
yang beorasi tentang kedamaian
dengan menutup jalan hingga sesak menjadikan kami lebih susah bekerja
menertakan dirimu
yang diam tak peduli
hanya berkacak pinggang dengan kekasih dipeluk
mahasiswa,
oh, mahasiswa
Muharram, April 2013
Minggu, 17 Februari 2013
buta
ibu, maafkan aku yang buta
aku tak minta lahir dengan begini
akupun tak minta lahir dari rahimmu yang miskin
ibu, aku mencintaimu
maaf atas rasa yang buatmu begini
ibu, aku mencintaimu
mataku ialah dirimu
perempuan yang menunjukkan dunia
mana yang kanan dan kiri
mana yang hitam dan warna
ibu, aku tak salahkanmu karena gizi yang tak mampu
bukan salahmu. jelas. jelas. jelas bukan salahmu
kau telah antri berjam-jam demi beras
dan minyak yang harus kau beli juga
kau yang menggendongku dalam perut
dalam antrian panas dan menyiksa
demi uang dua puluh ribu dari pak haji
begitu puas ia melihat kita yang berdesak minta uangnya
ibu,maafkan aku yang buta
aku tak minta lahir dengan begini
akupun tak minta lahir dari rahimmu yang miskin
ibu, aku mencintaimu
maaf atas rasa yang buatmu begini
ibu, aku mencintaimu
mataku ialah dirimu
perempuan yang menunjukkan dunia
mana yang kanan dan kiri
mana yang hitam dan warna
ibu, aku tak salahkanmu karena gizi yang tak mampu
bukan salahmu. jelas. jelas. jelas bukan salahmu
kau telah antri berjam-jam demi beras
dan minyak yang harus kau beli juga
kau yang menggendongku dalam perut
dalam antrian panas dan menyiksa
demi uang dua puluh ribu dari pak haji
begitu puas ia melihat kita yang berdesak minta uangnya
ibu,maafkan aku yang buta
Senin, 04 Februari 2013
Kridit
Ku pinjam ajalku dari Tuhan
Lalu ku selipkan baik-baik di tumpukan buku.
Ku pilih sebuah buku tebal bersampul merah dan hitam
dengan pita emas sebagai pembatas
Yang diminta Tuhan cuma dua dari ku.
Fotocopy KTP dan BPKB sepeda motor 2 lembar
sebagai jaminan
Ku timang-timang ia tak henti tiap waktu
sambil menghitung mundur usiaku
Ah! beginikah rasanya beranak permata hati
layak inikah yang dirasa Abraham
Dalam tiap sujud hatiku ngilu
Kepala ku berat menyunggi nadzar yang belum
tercapaikan.
-Muharram, 14 juni 09-
Lalu ku selipkan baik-baik di tumpukan buku.
Ku pilih sebuah buku tebal bersampul merah dan hitam
dengan pita emas sebagai pembatas
Yang diminta Tuhan cuma dua dari ku.
Fotocopy KTP dan BPKB sepeda motor 2 lembar
sebagai jaminan
Ku timang-timang ia tak henti tiap waktu
sambil menghitung mundur usiaku
Ah! beginikah rasanya beranak permata hati
layak inikah yang dirasa Abraham
Dalam tiap sujud hatiku ngilu
Kepala ku berat menyunggi nadzar yang belum
tercapaikan.
-Muharram, 14 juni 09-
Rabu, 19 Desember 2012
Jagung Bakar Arang
ibu,
kali ini aku bawa sebelas jagung
yang kau bakar dengan bara seadanya
semoga laku tinggal bakulnya saja
aku tahu kau menahan panas
percikan bara arang hanya untuk hidupku
kehidupan yang tercipta dalam tubuh legammu
ibu,
kemarin sore hujan gerimis
aku lihat Siti dan kawan-kawan
jalan-jalan di trade center
manis betul dia
ia bawa tas cantik berkilau
dengan tas jinjing penuh belanja
aku hanya tersenyum malu
berjalan lurus dengan membungkuk
berusaha menghilangkan bakul penuh jagung
aku hanya merasa malu,ibu
aku iri padanya, ibu
Siti. gadis tetangga yang bisa mengecap
manisnya cinta SMA
hanya karena bapaknya masih ada
masih menafkahi ibunya
Siti. gadis tetangga yang pakai tas cantik
dan tas jinjing penuh belanja
aku iri, malu dan menangis dalam senyum sore grimis itu.
ibu,
tabungan kita sudah berapa?
cukupkah untukku kembali sekolah?
sebab beasiswa hanya untuk yang pandai dan tidak beruang
sementara aku hanyalah gadis muda tak pandai dan tak beruntung
tapi aku juga masih punya cita-cita, ibu
ya, ibu
cukup sajalah aku sekolah
tak perlu tas cantik
tak perlu tas jinjin penuh belanja
apa aku makin menyesakkan dadamu,ibu?
aku bertanya bukan untuk menindihmu makin berat
aku hanya ingin tahu seberapa dekat aku dengan mimpi
mimpi kembali mengenakan seragam kelabu
mimpi memakai kembali sang sepatu usang
mimpi saat semut-semut bertanya apakah aku sedang jatuh cinta
aduh!
sial betul kaki telanjang ini
kenapa tak lihat putung rokok masih membara
hingga telapak kaki ini mesti melepuh
mekar seperti jagung bakar yang matang
ibu,
boleh aku minta satu hal lagi?
aku ingin bapak kembali
agar ia menikahkan aku dengan syariat yang benar
menjadikan aku sepertimu
dirimu, ibu
wanita yang memilih menjadi ibu pembakar jagung
wanita yag senang hati menjadi penitipan kehidupan
kehiupan diantara paha dan dadamu
aku ingin menderita sepertimu,ibu
bahkan lebih hebat
menderita karna bara dan jagung bakar tak laku
menderita karna hinaan tukang tagih hutang
menderita karna dinginnya malam di bawah pohon
tiap hari kita terlelap
muharram, 7-20 desember 2012
kali ini aku bawa sebelas jagung
yang kau bakar dengan bara seadanya
semoga laku tinggal bakulnya saja
aku tahu kau menahan panas
percikan bara arang hanya untuk hidupku
kehidupan yang tercipta dalam tubuh legammu
ibu,
kemarin sore hujan gerimis
aku lihat Siti dan kawan-kawan
jalan-jalan di trade center
manis betul dia
ia bawa tas cantik berkilau
dengan tas jinjing penuh belanja
aku hanya tersenyum malu
berjalan lurus dengan membungkuk
berusaha menghilangkan bakul penuh jagung
aku hanya merasa malu,ibu
aku iri padanya, ibu
Siti. gadis tetangga yang bisa mengecap
manisnya cinta SMA
hanya karena bapaknya masih ada
masih menafkahi ibunya
Siti. gadis tetangga yang pakai tas cantik
dan tas jinjing penuh belanja
aku iri, malu dan menangis dalam senyum sore grimis itu.
ibu,
tabungan kita sudah berapa?
cukupkah untukku kembali sekolah?
sebab beasiswa hanya untuk yang pandai dan tidak beruang
sementara aku hanyalah gadis muda tak pandai dan tak beruntung
tapi aku juga masih punya cita-cita, ibu
ya, ibu
cukup sajalah aku sekolah
tak perlu tas cantik
tak perlu tas jinjin penuh belanja
apa aku makin menyesakkan dadamu,ibu?
aku bertanya bukan untuk menindihmu makin berat
aku hanya ingin tahu seberapa dekat aku dengan mimpi
mimpi kembali mengenakan seragam kelabu
mimpi memakai kembali sang sepatu usang
mimpi saat semut-semut bertanya apakah aku sedang jatuh cinta
aduh!
sial betul kaki telanjang ini
kenapa tak lihat putung rokok masih membara
hingga telapak kaki ini mesti melepuh
mekar seperti jagung bakar yang matang
ibu,
boleh aku minta satu hal lagi?
aku ingin bapak kembali
agar ia menikahkan aku dengan syariat yang benar
menjadikan aku sepertimu
dirimu, ibu
wanita yang memilih menjadi ibu pembakar jagung
wanita yag senang hati menjadi penitipan kehidupan
kehiupan diantara paha dan dadamu
aku ingin menderita sepertimu,ibu
bahkan lebih hebat
menderita karna bara dan jagung bakar tak laku
menderita karna hinaan tukang tagih hutang
menderita karna dinginnya malam di bawah pohon
tiap hari kita terlelap
muharram, 7-20 desember 2012
Jumat, 20 Juli 2012
Atlas Indonesia
Atlas Indonesia
sepintas lalu ku
lihat sebua buku tebal
sampulnya mulai usang dan robek. tapi,
masih terlihat dengan jelas judul buku itu
: Atlas Indonesia
aku minta pada bapakku,
ku tunjuk dengan merengek
aku mau lihat bangsaku, kataku saat itu
bapak malah marah!
ia kata bahwa atlas itu tak relevan lagi
zaman baru telah menelan segala sejarah lama
tak ada lagi penghargaan terhadap yang tua
buku itu usang karena kami,generasi baru tak peduli
aku masih merengek. minta,
aku bilang mau lihat Timor Timur
buat apa kau lihat kekalahan!
itu memalukan!
pemimpin bangsa ini lebih cinta tanah air milik pribadi
dari pada tanah air milik bangsa
"bukan lautan tapi kolam susu
kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu."
koes bersodara! ah! hanya mimpi!
nelayan kita cari ikan dilaut sendiri
tapi kalah tanding dengan nelayan tetangga
bukan hanya kalah alat tapi juga kalah siasat
aku mau lihat gunung!
aku ingin lihat pantai dan danau!
aku ingin gambar-gambar budaya menari di mataku
biar yang lain melancong kluar negeri
biar mereka bersujud diatas budaya kebarat-baratan,
kejepang-jepangan, aku hanya mau lihat indonesiaku
tanah ini bukan lagi milik rakyat.
gas bumi, minyak bumi, kayu, air, bahkan udara
bukan lagi milik kita.
pejabat yang berwenang tlah menggadaikannya
menggemukkan perut dan kantong partai
mereka tak peduli pada kita!
omongnya saja DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT!!!
rakyat mana?!
sudah itu bapak mengelus kepalaku lembut
matanya pun teduh memandangku
"jadilah kau,anakku, manusia paling peka terhadap derita
dan kemiskinan. jangan jadi pencuri di negeri sendiri"
aku mengangguk takjim
berharap terlihat mengerti di usiaku yang ke sebelas
dalam hati aku berkata
"aku hanya ingin atlas indonesia yang tebal itu untuk
buat kapal terbang besar. biar ku temui tuhan di langit
kalau Ia sibuk, biar ku temui Gabriele saja
akan kukatakan padaNya, bahwa aku ingin hancurkan bangsaku"
-muharram, 12 12 09-
sampulnya mulai usang dan robek. tapi,
masih terlihat dengan jelas judul buku itu
: Atlas Indonesia
aku minta pada bapakku,
ku tunjuk dengan merengek
aku mau lihat bangsaku, kataku saat itu
bapak malah marah!
ia kata bahwa atlas itu tak relevan lagi
zaman baru telah menelan segala sejarah lama
tak ada lagi penghargaan terhadap yang tua
buku itu usang karena kami,generasi baru tak peduli
aku masih merengek. minta,
aku bilang mau lihat Timor Timur
buat apa kau lihat kekalahan!
itu memalukan!
pemimpin bangsa ini lebih cinta tanah air milik pribadi
dari pada tanah air milik bangsa
"bukan lautan tapi kolam susu
kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu."
koes bersodara! ah! hanya mimpi!
nelayan kita cari ikan dilaut sendiri
tapi kalah tanding dengan nelayan tetangga
bukan hanya kalah alat tapi juga kalah siasat
aku mau lihat gunung!
aku ingin lihat pantai dan danau!
aku ingin gambar-gambar budaya menari di mataku
biar yang lain melancong kluar negeri
biar mereka bersujud diatas budaya kebarat-baratan,
kejepang-jepangan, aku hanya mau lihat indonesiaku
tanah ini bukan lagi milik rakyat.
gas bumi, minyak bumi, kayu, air, bahkan udara
bukan lagi milik kita.
pejabat yang berwenang tlah menggadaikannya
menggemukkan perut dan kantong partai
mereka tak peduli pada kita!
omongnya saja DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT!!!
rakyat mana?!
sudah itu bapak mengelus kepalaku lembut
matanya pun teduh memandangku
"jadilah kau,anakku, manusia paling peka terhadap derita
dan kemiskinan. jangan jadi pencuri di negeri sendiri"
aku mengangguk takjim
berharap terlihat mengerti di usiaku yang ke sebelas
dalam hati aku berkata
"aku hanya ingin atlas indonesia yang tebal itu untuk
buat kapal terbang besar. biar ku temui tuhan di langit
kalau Ia sibuk, biar ku temui Gabriele saja
akan kukatakan padaNya, bahwa aku ingin hancurkan bangsaku"
-muharram, 12 12 09-
Kamis, 05 April 2012
Pertanyaan
Pertanyaan
Kenapa aku harus mencintai-Mu.
Sementara kau biarkan anak-anak-Mu.
Menangis hilang tanah air, harta, keluarga.
Tak tersisa lagi darah untuk ria.
Apalagi air mata menetes.
Tinggal bahgia yang menguap di dinding hati
Inikah yang Kau katakan tentang persaudaraan,
Tentang cinta, dan
Tentang surga dunia.
Tapi mengapa aku tak merasanya?
Aku terusir dari tanah-Mu yang jadi kelahiran bangsaku
Tanah suci dengan bukit tuhan mengelilingi.
Bapakku nati lebur paru
Ibuku hilang akal harap tangan-Mu.
Lalu, kenapa aku mempercayai-Mu?
Kenapa aku begitu mencintai-Mu.
3 Februari 2008
Sementara kau biarkan anak-anak-Mu.
Menangis hilang tanah air, harta, keluarga.
Tak tersisa lagi darah untuk ria.
Apalagi air mata menetes.
Tinggal bahgia yang menguap di dinding hati
Inikah yang Kau katakan tentang persaudaraan,
Tentang cinta, dan
Tentang surga dunia.
Tapi mengapa aku tak merasanya?
Aku terusir dari tanah-Mu yang jadi kelahiran bangsaku
Tanah suci dengan bukit tuhan mengelilingi.
Bapakku nati lebur paru
Ibuku hilang akal harap tangan-Mu.
Lalu, kenapa aku mempercayai-Mu?
Kenapa aku begitu mencintai-Mu.
3 Februari 2008
Kesepian
kesepian
yang ku baca juga mulai lelah
terpaku sendiri menekuk lutut.
harus ku apakan merah ini? Sementara awan ekstasi tak jua menari.
tak ada siapa ktka mata ku tutup
hanya sepasang bolpoin dan kertas tersandar malu
aq sepi.
-muharram, feb 10-
terpaku sendiri menekuk lutut.
harus ku apakan merah ini? Sementara awan ekstasi tak jua menari.
tak ada siapa ktka mata ku tutup
hanya sepasang bolpoin dan kertas tersandar malu
aq sepi.
-muharram, feb 10-
Kamis, 12 Januari 2012
Malam Setan
Malam Setan
dia bilang permisi dengan bungkuknya yang kaku
aku hanya senyum. bingung mesti bagaimana
ia pun berlalu begitu
setelahnya, aku merenung nasib
besok adik kecil masuk Taman kanak-kanak
kenapa pula lebih mahal dari sekolah dasar?
sepeda telah tergadai untuk kakaknya
tapi masih ada kasur.
biar kami tidur dengan tikar asal adik dan kakaknya
bisa sekolah
aku jadi ingat!
kenapa tak ku titipkan doa saja pada bulan
mumpung ia tadi lewat depan rumahku
ah! aku khilaf. sungguh aku lupa. mak pleng!!
pada siapa pula aku titipkan doaku?
sebab aku tahu.
tuhan malas dengan orang miskin dan tidak beriman.
tapi mana sempat aku bicara iman kalau lapar
kalau anak belum bisa sekolah besar
kalau istri bunting besar tapi tak ada uang.
dan kalau aku bahkan tak punya sarung untuk bersujud
kiai-kiai itu hanya bicara besar tentang surga dan neraka
mereka bicara iman diantara sedekah melimpah tiap jumat
sementara kami hanya jadi cecunguk yang mesti minta-minta
mereka cuma bilang kami kafir kalau menjual iman
dengan beras dan mie goreng
tapi kenapa kami tak dibantu?
mereka itu penipu!
yah, ada juga yang benar tapi hanya satu-dua
"sayang, kok belum tidur? besokkan mau sekolah"
sekecil bangun. mungkin mau pipis
ia bilang kalau tadi ia bicara dengan setan
si adik minta dibelikan sepatu dan seragam
juga buku dan uang saku untuk adik dan kakaknya
"kamu ndak takut toh ketemu setan, sayang?"
"buat apa takut? dia cakep. mirip bintang india"
saya termenung kembali setelah si adik tidur.
tiba-tiba datang seorang berkopyah mewah
dengan batik dan sepatu mengkilat.
ia dikerubuti wartawan dan polisi
Wong gagah itu menyerahkan sekardus hadiah
ada sepatu, seragam, buku dan uang
setelah jeprat jepret sana-sini ia pun berlalu
Alhamdulillah, doa si adik dikabulkan sama setan.
-muharram, 12 jun 2010
Selasa, 10 Januari 2012
Pedagang Buah
Pedagang Buah
ketika gerobak buahmu lebur dimakan aspal?
ketika matahari membungkus kulitmu yang melepuh
ketika kaca melukai kakimu yang pecah-pecah
tak ada, hanya kawanan tukang becak
senasip kata mereka. sepenanggungan kata mereka
tapi kau masih saja tumbuhkan jenggotmu
masih saja ku ikuti ngaji-ngaji itu
percuma,Pak!!! mereka tak bantu
bapak! tak perlu sampai hitam keningmu
bersujud tiap hari kalau hanya 'tuk jatuh
dan jatuh lagi tiap hari.
biar kita ikut sosialis saja. kita ikut mereka yang bagi beras
kasih kita kerja. suplay kita punya perut
mereka lebih ada dari pada ke-ada-an Tuhan dan ustadnya
buah yang kemarin tak laku, biar kita bagi buat yatim
mereka lebih butuh dari pada buat selamatan 100 hari ibu
ibu sudah mati!! lupakan saja. kita yang hidup!
Pak, jangan jual buah hari ini.
satpol PP sudah mengintai
kita jual saja iman yang tak seberapa ini.
kalau perlu kita jual kebangsaan kita.
muharram-, 1 Okto 10
Senin, 26 Desember 2011
Jangan Melacur Malam Ini,
Jangan Melacur Malam Ini
mas dapat uang lumayan
obat buat si adik juga sudah terbeli
maka, jangan melacur malam ini.
hari ini ada juragan haji lagi selamatan
belanjaannya berkwintal aku bawa
sedang keringat ia bayar dengan lima puluh ribu
cukuplah sudah
aku tahu kau setia
biar teman-teman sesama kuli angkut
pernah menikmati tubuhmu
tapi hatimu tetap untukku.
Dek, besok kita kirim wesel buat emak
sebab tak mungkin uang yang cuma seratus lima puluh ribu itu
kita transfer lewat bank, habis ia kena pajak.
uang itu sudah ditunggu 2 bulan
dan dua bulan itu pula si mbok cuma makan nasi karak sisa tetangga
biarlah kita balas emak dengan uang yang tak seberapa
dek, si adik bangun.
teteki dia.
kau mau kemana?
bukan sudah ku bilang jangan melacur malam ini?!
oh,... buat bayar listrik dan kos.
ya sudah. ati-ati.
Muharram, okto 10
Langganan:
Postingan (Atom)


