Saya mengerti kenapa harus seperti ini akhirnya
Sebab menerima kekalahan ialah sebuah keharusan
Keharusan yang dipaksakan saya terima
Saya mencoba untuk ikhlas
Saya terus mencoba untuk menerima, dan
Saya masih mencoba untuk merelakan bukan melupakan
Sebab melupakan ialah penyangkalan
Penyangkalan hanya menghasilkan kepedihan yang kian mendera
Mengiba jadi bahan sehari-hari yang tak pernah saya mau
Jadi tolonglah,
Jangan menari didepan saya
Lukanya masih basah
Saya tak ingin kepenatan ini jadi amarah
Karna ia hanya menghasilkan bencana
Sekali lagi tolong
Hentikan tarian itu untuk sementara!
Muharram, 20 juli 2014
Untuk calon presidenku
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Juli 2014
Minggu, 09 Juni 2013
Belum Cukup Usia, Jangan Paksa Anak Sekolah
KOMPAS.com — Lantaran ingin buah hatinya siap dalam menghadapi dunia pendidikan dan cepat mahir, banyak orang tua berlomba mendaftarkan anaknya untuk mengenyam bangku pra-sekolah. Bahkan, terkadang orang tua langsung memasukkan anak ke sekolah dasar (SD), padahal usianya belum sampai enam atau tujuh tahun.
Psikolog anak, Roslina Verauli, mengatakan bahwa usia harus menjadi pertimbangan orang tua dalam mengambil keputusan untuk memulai pendidikan formal pada anak. Pasalnya, jika anak dipaksa bersekolah saat usianya belum sesuai maka dampaknya kurang baik ke depannya.
"Lihat usianya dulu. Jangan dipaksakan. Karena teman seusia atau sebaya dalam satu kelas itu bisa membuat mereka frustrasi," kata Roslina kepada Kompas.com, Senin (14/1/2013).
Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa ada anak-anak yang mampu menyesuaikan diri dan belajar bersama dengan teman yang usianya lebih tua. Contoh saja, siswa kelas satu SD biasanya berusia enam hingga tujuh tahun, tapi ada anak berusia lima tahun sudah duduk di bangku SD dan kemampuannya setara.
"Memang awalnya bisa. Tapi itu untuk saat ini saja. Kita harus lihat efek ke depannya," jelas Roslina.
"Sekarang kelas satu masih bisa sama dan mengejar pelajaran. Tapi saat kelas empat nanti, teman-temannya sudah memasuki fase yang berbeda karena beda usia. Ini akan membawa pengaruh bagi anak tersebut," imbuhnya.
Untuk itu, orang tua harus melihat usia buah hatinya. Jika memang masih terlalu kecil maka akan lebih bijak untuk memilihkan taman bermain yang sesuai karakternya. Meski terkadang anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung pada usia dini, hal itu bukan jaminan anak siap bersekolah.
Dalam hal ini, yang perlu dikembangkan adalah pengajaran dari orang tua di rumah dan komunitas yang tepat bagi anak untuk bermain dan berinteraksi. Orang tua bisa terus mengasah kemampuan membaca dan menulis anak dengan sederhana.
Hal utama yang tak boleh terlupakan adalah mengenali kebutuhan anak Anda. Tak hanya soal kebutuhannya yang terkait usia, tetapi juga keunggulan dan kelemahannya, juga kesenangannya. Lalu, libatkan anak dalam menentukan sekolah yang tepat.
Senin, 22 April 2013
Mahasiswa, oh, mahasiswa
menertawakan dirimu
yang teriak lantang tolak anarki
dengan membakar bendera dan mobil
menertawakan dirimu
yang menolak aturan moral
dengan merekam tiap sudut intim dengan kekasih
menertawakan dirimu
yang meminta transparansi duit
dengan membanting kaca dan meja hasil uang jelata
menertawakan dirimu
yang beorasi tentang kedamaian
dengan menutup jalan hingga sesak menjadikan kami lebih susah bekerja
menertakan dirimu
yang diam tak peduli
hanya berkacak pinggang dengan kekasih dipeluk
mahasiswa,
oh, mahasiswa
Muharram, April 2013
yang teriak lantang tolak anarki
dengan membakar bendera dan mobil
menertawakan dirimu
yang menolak aturan moral
dengan merekam tiap sudut intim dengan kekasih
menertawakan dirimu
yang meminta transparansi duit
dengan membanting kaca dan meja hasil uang jelata
menertawakan dirimu
yang beorasi tentang kedamaian
dengan menutup jalan hingga sesak menjadikan kami lebih susah bekerja
menertakan dirimu
yang diam tak peduli
hanya berkacak pinggang dengan kekasih dipeluk
mahasiswa,
oh, mahasiswa
Muharram, April 2013
Senin, 07 Januari 2013
Catatan buku Ring Of Fire karya Lawrence Blair (1)
"entah itu karena tipuan Proyeksi Mercator, atau karena chauvinisme alami para pembuat peta, Indonesia jarang ditampilkan dalam proporsi sejatinya, atau malah tidak muncul di peta. dalam 5 juta persegi samudra, dan merentang lebih luas daripada ke-48 negara bagian Amerika Serikat di benua Amerika, kompleksitas Indonesia dari sei geografis, hukum, dan linguistik menjadikan sebagian besar wilayahnya nyaris tidak pernah didatangi siapapun selain para pengelana asing paling keras kepala, bahkan sampai saat ini. bahkan Belanda, yang menjajah bangsa tersebut lebih lama daripada negara-negara barat lainnya, lebih berminat mendirikan pos-pos perdagangan daripada mengeksplorasi, dan mereka mendelegasikan wewenang mereka kepada para kepala suku setempat, yang lantas mendelegasikan juga wewenang mereka kepada bawahan-bawahan mereka, sampai-sampai masih banyak sekali orang Indonesia yang belum pernah melihat orang eropa sebatang hidung pun. sejak kemerdekaan diakui pada 1949, pemerintah Indonesia, yang berbasis di Jawa, telah mencoba mengendalikan wilayah negara yang luas, salah satunya dengan cara mempersulit orang-orang Indonesia sendiri untuk bepergian dengan bebas di negara mereka sendiri. oleh karena itu, sebagian besar negeri tersebut masih belum diketahui, oleh dunia maupun oleh penduduknya sendiri."
satu alenia bagian awal buku ini membuat saya berfikir. kok bisa? emang gitu? pantesan,..
kok bisa? pertanyaan awalnya kok bisa Indonesia yang begitu luas dilupakan oleh para pembuat peta? ini menyakitkan buat saya dan para nasionalis (saya ga yakin kalau para "KoreaLovers" n "BritisVaganza" merasakannya juga). apa karena Indonesia itu negara miskin? karena Indonesia juarang banget berprestasi? atau gara-gara PSSI-nya ribut terus? atau malah karena Indonesia surganya para koruptor?
tapi dengan alasan apapun, saya tetap sakit hati.
emang gitu? Belanda emang cuma meras susu ibu pertiwi. kemajuan apa yang Belanda kasih ke kita? mereka malah mewariskan sifat korupsi yang sekarang sedang jadi trending topik para pejabat di negara ini. para pemimpin bukannya bekerja untuk rakyat, tapi malah rakyat yang diminta kerja keras banting tulang jual darah demi memuaskan hasrat mereka pada uang, tahta dan wanita. kenapa coba, Aril NOAH dipenjara sekian tahun gara-gara aksi "upin-ipin" sementara kalau yang jadi "upin" pak Bupati atau Anggota DPR kasusnya malah ditutup-tutupi. sampai-sampai pas rapat ada anggota yang nonton BOKEP!!!! apa gak kelewatan itu orang. yang pantas disalahkan disini bukan Belandanya, tapi pola pikir orang-orang kita terutama para pemmpinnya. kasian dong kalau jadi pemimpin di negeri ini karena pasti didemo dan dihujat. tapi rakyat yang "waras" gak mungkin mendemo dan menghujat pemimpin yang amanah. itu pasti.
pantesan,.. jalan, jembatan, dan kapal ferry di negeri ini sudah tua renta, jelek, bahkan rusak parah. negara bukannya membangun jalan dan jembatan yang baik, kokoh, dan bagus demi kelancaran perekonomian, pemerataan pendidikan misalnya. uang negara yang sudah sedikit itu malah buat jalan-jalan keluar negeri, bayar gaji plus tunjangan para pegawai negeri yang kerjaannya cuma "morotin" rakyat biasa atau malah buat beli mobil mewah plat merah yang ujung-ujungnya malah jadi plat hitam.
yah, buat para warga negara Indonesia yang "mangkel" dengan ini semua, saya cuma bisa bilang "sepurane,mas"
salam budaya Indonesia!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
