Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Februari 2014

silabus dasar pelatihan teater : Konsentrasi



Konsentrasi

Tujuan Umum                   : mengenalkan teori dan teknik konsentrsi kepada peserta didik
Tujuan Khusus                  : memberikan pengalaman konsentrasi peserta didik dalam memainkan peran
Waktu Pelatihan               : disesuaikan dengan keadaan peserta, pelatih dan instansi terkait.
Pelatihan                             :
1.       Hakikat konsentrasi dan macam bentuknya.
2.       Pelatihan mengawali konsentrasi dengan beberapa teknik.
3.       Melatih konsentrasi dengan memainkan peran yang dibacakan dengan cepat.
Pencapaian materi minimal         :
1.       Peserta didik memahami hakikat konsentrasi dan beberapa teori teknik konsentrasi.
2.       Mampu memainkan peran dengan baik sesuai dengan teks drama atau puisi.
Materi konsentrasi.
1.       Hakikat konsentrasi ialah menetapkan diri pada tujuan. Konsentrasi didapat dengan berbagai cara untuk memulainya. Untuk memulai konsentrasi biasa digunakan teknik yoga yakni konsentrasi pada pernafasan atau pandangan pada titik tertentu. Konsentrasi yang benar bukan hanya terjadi saat melakukan yoga tapi saat latihan peran atau pada saat di panggung.
2.       Setelah mengawali konsentrasi dengan teknik pernafasan. Mulailah kita melakukan latihan membaca cepat sebuah puisi. Mulailah dengan puisi satu bait kemudian meningkat menjadi lebih dari satu bait. Kemudian buat satu pementasan deklamasi puisi tersebut.
3.       Ambilah satu bagian naskah yang anda suka. Pilih rekan sesame peserta didik. Baca cepat bagian naskah terebut lalu pentaskan. Lakukan berulangkali dengan bagian yang lain dalam naskah yang sama.

materi diatas memerlukan pengembangan berdasarkan pengalaman pelatih.
Selamat berlatih.
Muharram. Generasi 19



Minggu, 09 Juni 2013

pilih sekolah yang tepat

KOMPAS.com - Setiap orangtua tentu tak ingin sembarangan mencari sekolah untuk sang buah hati. Seperti sudah disinggung dalam tulisan sebelumnya, jangan pula asal-asalan memilih sekolah yang tepat untuk anak. Pasalnya, pendidikan dasar merupakan “investasi jangka panjang” bagi masa depan anak-anak tersayang.

Biaya yang mahal rela ditanggung demi meraih pendidikan yang berkualitas. Namun, sebenarnya apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak Anda?

Psikolog dan pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, mencatat sejumlah poin kriteria yang bisa menjadi acuan orangtua dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak. Menurut Kak Seto, kriteria-kriteria ini perlu diperhatikan dengan baik.

1. Lihat visi misi sekolah tersebut. Visi misi sekolah akan menentukan kurikulum yang digunakan. Sesuaikah visi misi sekolah tersebut dengan pandangan pendidikan di keluarga dan harapan orangtua?

2. Pertimbangkan sekolah bagus dengan tenaga pengajar yang bagus juga. Guru adalah ujung tombak yang menentukan anak akan belajar dan bermain dengan menyenangkan atau tidak.

3.  Perhatikan kondisi sekolah dan lingkungan di sekitarnya, termasuk kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah. Cukupkah untuk mendukung proses belajar-mengajar yang menyenangkan bagi anak?

4. Perhitungkan jarak sekolah dari rumah. Jangan sampai terlalu jauh sehingga anak lelah di jalan dan tidak semangat belajar.

5. Kenali karakter anak dan kebutuhannya untuk menentukan sekolah yang sesuai dengan anak. Misalnya, anak yang suka bergerak cocok disekolahkan di sekolah alam.

6. Pengenalan akan karakter dan kebutuhan juga membantu mengenali durasi bersekolah dan komposisi durasi pengajaran di sekolah, misalnya dengan untuk menentukan butuh sekolah dengan durasi yang lebih banyak waktu bermain atau belajar.

7. And last but not least, pikirkan matang-matang kemampuan finansial Anda untuk membayar segala biaya yang dibutuhkan, baik uang pangkal maupun uang bulanan ke depannya. Pastikan Anda memiliki sumber-sumber dana yang cukup untuk konsisten membayar ke depannya.

Di masa kini, pertimbangannya bukan lagi sekadar biaya mahal menentukan kualitas. Orangtua harus cerdas melihat seberapa besar dampak yang bisa diberikan sekolah bagi pertumbuhan kecerdasan kognitif dan emosional anak dengan seimbang.

Belum Cukup Usia, Jangan Paksa Anak Sekolah



KOMPAS.com Lantaran ingin buah hatinya siap dalam menghadapi dunia pendidikan dan cepat mahir, banyak orang tua berlomba mendaftarkan anaknya untuk mengenyam bangku pra-sekolah. Bahkan, terkadang orang tua langsung memasukkan anak ke sekolah dasar (SD), padahal usianya belum sampai enam atau tujuh tahun.

Psikolog anak, Roslina Verauli, mengatakan bahwa usia harus menjadi pertimbangan orang tua dalam mengambil keputusan untuk memulai pendidikan formal pada anak. Pasalnya, jika anak dipaksa bersekolah saat usianya belum sesuai maka dampaknya kurang baik ke depannya.

"Lihat usianya dulu. Jangan dipaksakan. Karena teman seusia atau sebaya dalam satu kelas itu bisa membuat mereka frustrasi," kata Roslina kepada Kompas.com, Senin (14/1/2013).

Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa ada anak-anak yang mampu menyesuaikan diri dan belajar bersama dengan teman yang usianya lebih tua. Contoh saja, siswa kelas satu SD biasanya berusia enam hingga tujuh tahun, tapi ada anak berusia lima tahun sudah duduk di bangku SD dan kemampuannya setara.

"Memang awalnya bisa. Tapi itu untuk saat ini saja. Kita harus lihat efek ke depannya," jelas Roslina.

"Sekarang kelas satu masih bisa sama dan mengejar pelajaran. Tapi saat kelas empat nanti, teman-temannya sudah memasuki fase yang berbeda karena beda usia. Ini akan membawa pengaruh bagi anak tersebut," imbuhnya.

Untuk itu, orang tua harus melihat usia buah hatinya. Jika memang masih terlalu kecil maka akan lebih bijak untuk memilihkan taman bermain yang sesuai karakternya. Meski terkadang anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung pada usia dini, hal itu bukan jaminan anak siap bersekolah.

Dalam hal ini, yang perlu dikembangkan adalah pengajaran dari orang tua di rumah dan komunitas yang tepat bagi anak untuk bermain dan berinteraksi. Orang tua bisa terus mengasah kemampuan membaca dan menulis anak dengan sederhana.

Hal utama yang tak boleh terlupakan adalah mengenali kebutuhan anak Anda. Tak hanya soal kebutuhannya yang terkait usia, tetapi juga keunggulan dan kelemahannya, juga kesenangannya. Lalu, libatkan anak dalam menentukan sekolah yang tepat.