Senin, 26 Desember 2011

Terpendam


Terpendam

aku pendam dendam di pekarangan hatiku
tak ada yang tahu. aku hanya diam
dan tersenyum

ketika tiap lubang tanah telah terisi
aku rsa sesak sungguh. makin jadi saja
tak pernah ada tetangga yang rela
bahkan takkan mampu,
menampung tiap bara sedingin pelukan kematian

aku sendiri

sesak. aku pilih asap penuh asbak
ketika asap tak lagi mampu
aku memlih pergi sendiri
diam menunggu petaka yang lebih gila kerna sepi

-muharram, jan 10-

Jangan Melacur Malam Ini,


Jangan Melacur Malam Ini

Dek, jangan melacur malam ini
mas dapat uang lumayan
obat buat si adik juga sudah terbeli
maka, jangan melacur malam ini.

hari ini ada juragan haji lagi selamatan
belanjaannya berkwintal aku bawa
sedang keringat ia bayar dengan lima puluh ribu
cukuplah sudah

aku tahu kau setia
biar teman-teman sesama kuli angkut
pernah menikmati tubuhmu
tapi hatimu tetap untukku.

Dek, besok kita kirim wesel buat emak
sebab tak mungkin uang yang cuma seratus lima puluh ribu itu
kita transfer lewat bank, habis ia kena pajak.
uang itu sudah ditunggu 2 bulan
dan dua bulan itu pula si mbok cuma makan nasi karak sisa tetangga
biarlah kita balas emak dengan uang yang tak seberapa

dek, si adik bangun.
teteki dia.
kau mau kemana?
bukan sudah ku bilang jangan melacur malam ini?!
oh,... buat bayar listrik dan kos.
ya sudah. ati-ati.

Muharram, okto 10

Jumat, 23 Desember 2011

Dia


Dia

tambatkan beban yang kian gelap ini
aku menggelepar jadi perih senyum
menantimu.

benar memang apa katamu dulu
bahwa langit akan tetap bisu meski kau tinju ratus kali.

kini aku punya jalan sendiri.
ku ketuk ia dengan lebih bijak.
salam 3 kali, lalu ku pergi.

tak selamanya beban hanya jadi beban
kadang ia jadi bagian diri yang sepi tanpanya

ku tarik lagi udara,
lewat hidung tuju paru
ku pompa darah
menyebarlah bara yang nyalakan nyawaku.

bukan mereka yang akan menyelamatkan
tapi Dia,

-muharram,sept 09-

Dipeluk Cahaya


Dipeluk Cahaya

(u/ Alm Hadi Siswoyo)

Alhamdulillah
terbangun juga engkau dari tidur panjang
penuh bara debu di dunia
kami datang. menangis bukan sedih
tapi iri melihat kau yangkan dipeluk cahaya

Kemarin
kau katakan ini itu jadi laku kami
lalu kau ajarkan kami bermimpi
berlari mengejarnya dan bertahan
untuk memeluknya lama

layar kami telah pasang
angin berbisik kencang
tak peduli badai senyum kami terjang
ingat jengkal katamu 'tuk menang

Bismillah
ya, tersenyumlah sekali lagi
lihat kami sekali lagi yang masih bermimpi
dan sampaikan pada mereka yang kan bertanya
bahwa Tuhan mu dan Tuhan kami sama
bahwa nabi mu dan nabi kami tak beda

Minta kami pada empunya nyawa
agar engkau dipeluk cahaya.

-muharram. sept, 09-

Mengadu Aku Pada Asap


Mengadu Aku Pada Asap

Berkali sudah waktu ada untukmu
tapi mengapa kau tak ada untukku
sekarang. disaat aku hendak mengambil
tongkat estafet baru

Mengadu aku pada asap

Bila kekasih telah dipinang
tak ada balas selain ijab

aku bentarkan meraja
berlayar pergi tak kembali
tiada angin. dayung ku gerak
gelombang diam. tangan ku tetak

beginilah jadinya bila kau tak mau

Aku tak ambil peduli
ikrar nanti kau tak ku pinjam
biar lega aku bicara
biar lurus jalan ku jaga

sepi memang samudra dirasa
tapi tak mengapa
bentar juga pelabuhan kan nampak

diperahu ku kini sendiri
hanya kretek dan lembar kulit kayu
masih terjaga minum kopi


2007

Kamis, 22 Desember 2011

Belum Siap

Kenapa malam datang
sementara matahari
 belum sempat memberi sinar cukup
yang terasa belum juga hangat dikulit kami
   yang coklat

kelam ini membawa nyata
aku belum siap
jadi bijaksana
jadi dewasa

Ah!
kenapa kau tak peduli
tunggu sebentar lagi

2007, 16 JUNI

Selasa, 20 Desember 2011

Buku Surga


 BUKU SURGA

Surga itu ialah tumpukan buku
ia meminjamkan matahari, bulan, kekasih, bahkan kematian
setiap lembarnya ialah keindahan
harumnya ialah cinta terbalas utuh

diantaranya, ada siluet mimpi
mengganjal hati dengan asa
ah, disanalah
disanalah candu yang lebih kuat hadir

dalam satu lembar aku temukan cinta
dan di lembar lainnya aku temukan sihir dan golem

tumpukan buku ialah surga
diantaranya tak ada dusta.
semua salah tak terasa
hanya penerimaan utuh untuk disetubuhi.