Atlas Indonesia
sepintas lalu ku
lihat sebua buku tebal
sampulnya mulai usang dan robek.
tapi,
masih terlihat dengan jelas judul buku itu
: Atlas
Indonesia
aku minta pada bapakku,
ku tunjuk dengan
merengek
aku mau lihat bangsaku, kataku saat itu
bapak
malah marah!
ia kata bahwa atlas itu tak relevan lagi
zaman
baru telah menelan segala sejarah lama
tak ada lagi penghargaan
terhadap yang tua
buku itu usang karena kami,generasi baru tak
peduli
aku masih merengek. minta,
aku bilang mau lihat
Timor Timur
buat apa kau lihat kekalahan!
itu
memalukan!
pemimpin bangsa ini lebih cinta tanah air milik
pribadi
dari pada tanah air milik bangsa
"bukan lautan
tapi kolam susu
kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai
tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu."
koes
bersodara! ah! hanya mimpi!
nelayan kita cari ikan dilaut
sendiri
tapi kalah tanding dengan nelayan tetangga
bukan hanya
kalah alat tapi juga kalah siasat
aku mau lihat gunung!
aku
ingin lihat pantai dan danau!
aku ingin gambar-gambar budaya
menari di mataku
biar yang lain melancong kluar negeri
biar
mereka bersujud diatas budaya kebarat-baratan,
kejepang-jepangan,
aku hanya mau lihat indonesiaku
tanah ini bukan lagi milik
rakyat.
gas bumi, minyak bumi, kayu, air, bahkan udara
bukan
lagi milik kita.
pejabat yang berwenang tlah
menggadaikannya
menggemukkan perut dan kantong partai
mereka
tak peduli pada kita!
omongnya saja DEMI KESEJAHTERAAN
RAKYAT!!!
rakyat mana?!
sudah itu bapak mengelus kepalaku
lembut
matanya pun teduh memandangku
"jadilah kau,anakku,
manusia paling peka terhadap derita
dan kemiskinan. jangan jadi
pencuri di negeri sendiri"
aku mengangguk takjim
berharap
terlihat mengerti di usiaku yang ke sebelas
dalam hati aku
berkata
"aku hanya ingin atlas indonesia yang tebal itu
untuk
buat kapal terbang besar. biar ku temui tuhan di
langit
kalau Ia sibuk, biar ku temui Gabriele saja
akan
kukatakan padaNya, bahwa aku ingin hancurkan bangsaku"
-muharram,
12 12 09-