Minggu, 08 Januari 2012

Ngampus


Ngampus

apa yang kulakukan ketika Ibu

mengais beras di jalan penuh krikil?



aku berkirim pesan singkat dengan si doi

berkata manis. kadang juga merayu



diperantauan tempat aku ngampus

tak terlihat ibu melawan malam

menanak nasi untuk jual nanti subuh

sedang aku, asik begadang di cafe pinggir jalan

makan indomie



aku baru ingat Ibu ketika uang hampir habis

langsung saja kuminta

"ngirimnya jangan telat

nanti aku nggak bisa garap tugas. ok?!"

mudah



anak ngampus aku ini

tak perlu pikir uang dulu

nanti saja. sekarang minta



kami intelektual muda

tak peduli jadi mahasiswa abadi atau apapun

yang penting bergaya



Ibu, rasanya permintaan maaf hanya dibibirku

di hati hanya ada si doi.



7 Sept 10

Narti Sendiri


Narti Sendiri

Bapak, malam t'lah larut
detaknya mencapai dua
tapi kau belum sampai jua
aku rindu.
aku kangen dengan bau keringat dan asap
dari tubuhmu.

tadi pagi kau berangkat lebih awal
adik minta sepatu baru
ia merengek seak seminggu lalu
tumitnya terbuka ia jadi malu
sekolah mengoloknya karena ia tak mampu

diluar agak gerimis,
rintiknya bermusik di genting kita
apakah kau lupa penutup kepalamu?
jangan sakit, bapak
aku tak mampu sendiri
jadi buruh cuci takkan mampu untuk bernafas

bapak, tadi sore yang punya rumah
minta uang kos.
telh enam kali aku bilng besok
bu Haji ini marah. mengumpat
mengancam mengusir kita

tetangga tak ada peduli
mereka sama diumpat, diolok,
diancam ole hidup

ingatkah kau ketika dulu.
dulu sekali,
ketika kau lamar aku
hari itu kau datang dengan sarung
dan peci lusuh terbaikmu
dengan tegas kau bicara
"Pak, saya ingin melamar Narti"
malam itu aku tersipi
tak tahan merasakan lagi janjimu

kau menepatinya,
kau bawa aku ke kota
kita tidur di stasiun berdua
makan sehari sekali kita berdua
hingga rebutan raskin pun kita berdua
sampai saat ini
ditengah gerimis dan tahi ayam
aku masih merasakan bara sayang itu

tong! tong! tong! ting! tung! tang! tang!
ada ribut-ribut di luar
aku longokkan kepala menembus jendela
orang lalu lalang sambil berlari gila
ada yang bawa kasur, TV, lemari,
kursi, tikar, bantal, hingga parabola.
meeka pada teriak kebakaran!
kebakaran! kebakaran! kebakaran!
anak-anak jadi bangun.
ku suruh saja pergi ke depan gang.
mereka langsung lari tak peduli.
tak sempat cium kening atau salam.

bapak, aku masih menunggu sendirian
persis seperti yang kau minta.
Narti menggumu,pak.

muharram, 25 Juni 2010.
-refleksi cinta dan ketulusan-

Naskah, Mencari Sketsa Wajah Tuhan


Mencari Sketsa Wajah Tuhan

R. Muharram
===============



sebuah bayang bergerak cepat. Lincah. Seprti dikejar mimpi buruk. Seperti menari. Dalam kalut penuh kabut ia tiba-tiba diam. Terpasung badannya yang panik seperti terpenjara waktu. Ia berontak dan mulai kelelahan dengan liat. Hanaya mulutnya yang bicara. Sementara itu, disekelilingnya mulai bersuara mencari apa yang sama ia cari. Mantra.

→ padamu aku jatuh tanpa warna, rasa dan roh
,...

ia ulang kalimat janji itu berkali-kali hingga kelu lidahnya. Ketika mulai tenang, meski ia bingar, ia mulai mengeluh.

→ bau dupa, lawar anyir, sesaji busuk
suara mantra, kepungan asap, mantra
bunga-bunga busuk
bau aneh melukai nafasku

→ orang-orang mulai rontok
inikah cara terbaik menjemputmu
wajahmu ada dimana-mana
wajahmu ada dimana-mana
,....
,....

mulai letih ia dengan dunia. Mencoba berlari pelan saja

→ wajahmu ada dimana-mana
wajahmu ada dimana-mana
,....
******

dua orang pencari jiwa muncul seperti kembar siam meski mereka terpisah badan.

→ kupas nyawa dalam nyali jiwa melompong
melahirkan jerih yang makin menggelepar
nafas kerauhan dan wajah-wajah dewa tanpa nama turun
mengisi setiap sudut jiwa
mengupas misteri mistik
menyekutukan alam

mereka bicara seakan berdoa. Seakan mengumpat.

→ arak anyir mulai diserap tanah
aku melihat asap dupa kelelahan
upacara selesai

→ ada anjing mengamuk melingkari tumpukan sesaji
ada ayam memanggil seratus anaknya
ku hitung gerak waktu yang melingkar di otakku
kulihat langit gelap
kau tak muncul
upacara selesai

→ bau kemenyan
malam mengeja rahasia hidupnya
bunga-bunga memperlihatkan keangkuhannya
kemana aku harus berpaling
mencari wajahmu
upacara selesai

mengiba mereka. Mulai kaku.
Sementara suara mantra-mantra kian uat terdengar. Mulai menyanyi.
Bayangan tadi muncul kembali. Kali ini berteman.
Satu panik. Satu sedih.

→ ku urungkan langkah
mencari jejak yang pernah kau titipkan pada tanah
suara mentra mengupas sunyiku
aku merasakan nafas para dewa mengepung tubuhku.

→ nafasmu ada pada lipatan tubuh manusia
jiwaku tersembunyi dikotak wayangmu
setiap detik kau buatkan alur cerita dan dongeng.

→ calo-calo dalam bentuk dewa

kali ini ia sedih

→ calo-calo dalam bentuk dewa

kali ini marah

→ calo-calo dalam bentuk dewa

kali ini bertanya curiga

→ calo-calo dalam bentuk dewa

kali ini puas tertawa

→ calo-calo dalam bentuk dewa

kali ini mantap ia berikrar


salah satu bayang pergi. Yang lain iam sendiri. Menari.

→ wajahmu mungkin ada pada kerak nasi yang tertelan
masuk ke tnggorokan
terlipat seperti gesekan darah
yang tersembunyi di balik urat

→ wajahmu
pada tugu batu yang kaku dan dingin

kali ini suara I

→ wajahmu
pada tumpukan lontar tua

kali ini suara II

→ wajahmu
pada tubuh coro-coro yang merusak mantra rahasia

kali ini suara III

→ wajahmu
pada kerakap dibalut kain putih hitam

kali ini suara IV

bayangan yang tadi pergi kini datang kembali. Membawa sesuatu ia untuk bayang yang menanti.

→ kelak, seratus tahun lagi
anak cucu mengeramatkan benda-bendamu
untuk mencari wajahmu

mantra kembali terdengar. Lebih syahdu. Lebih sedih.

→ suaramu ada pada kesenyapan
ada pada tanda tanya, koma, titik, seru
mungkin juga terselip di otak para ilmuwan
satu keinginan ku
meminjamnya sehari, dua hari
sementara,
wajah milikmu terlukis tajam
dalam sketsa panjang di pori-pori tulangku

→ inilah cara terbaik menjemputmu
aneh, aku tak pernah mengenalmu

→ wajahmu ada dimana-mana
pada tumpukan sesaji busuk
menjelma tanah dan terinjak

→ wajahmu ada dimana-mana
pada warna bunga yang bergairah
yang meretaskan jiwa hingga lunglai
dimakan senyap

dua orang selayak kembar siam, saling melepas diri. Tertarik dua bayang yang pergi beda arah. Seakan menemukan jalan sendiri. Tak peduli satu sedih. Satu bahgia.

→ aneh, aku tak pernah mengenalmu
aneh, aku tak pernah mengenalmu
aneh, aku tak pernah mengenalmu
aneh, aku tak pernah mengenalmu
,...


→ bau dupa, lawar anyir, sesji busuk
suara mantra, kepungan asap, mantra
bunga-bunga busuk
melukai nafasku

*******
--------------------------
---------------selesai-----------------------------------------------
16 okto 09

*naskah ini merupakan adaptasi puisi Mencari Sketsa Wajah Tuhan karya Oka Rusmini.
** diperlukan kreatiitas dan imajinasi lebih dalam penggarapan naskah ini.

Selamat berkarya.

(pertama kali dipentaskan oleh Teater kedok 31 oktober 2009)

Cerita Baru Buat Ibu


cerita baru buat ibu

di bulan yang menguning
aku kabarkan rindu yang membara
bukan lagi api, maaf,
senyummu telah meresap dalam senyumku

senja masih merangkak di atas tanah merahmu
hanya bunga-bunga layu seribu basah
di magrib ini ku uraikan lagi, lagi dan lagi
kalau aku bukan lagi seperti saat kau tinggalkan
jenggot mulai merambah janggut yang biasa kau terkam
tapi pipiku kembali bulat seperti dulu

ibuku yang meminta maf dimalam ketika ku marah
ku kenalkn gadis yang telah kau timang dulu.
ia yang akan menmaniku menemuimu nanti
didialah ku percayakan hidupku untuk dijaga

meski jiwaku kini berlendir da berasap penuh
tapi aku masih lelakimu, satu-satunya.

di bulan yang memerah ini
ku ucapkan salam dan harap
"berikan beliau keselamatan, keringanan,
serta cahaya di kamar sepinya"

engkau selalu di hatiku, Ibu.

-muharram, maret 10-

Biduk Hitam


Biduk Hitam

aku menikah di telaga utara
yang hitamnya mengalahi hitam kopi paling hitam
malam pertama tak ada
sebab malam dan siang menyatu
dalam nafas kami yang tak kentara

sebuah biduk buat kami berpijak
mulai retak di hantam nafas
kami yang menderu
saling berlari mengejar debu

suatu hari nanti aku berjanji
pada sang biduan hati
papan-papan akan tertancap
jerami akan menyatu menutupi ketelanjangan kami
agar gelap tak menghimpit dingin

disitu. di janji itu
aku selipkan harapan dan kebohongan
sebab aku tahu pohon dan belukar takkan mampu
hidup tanpa cahaya
tapi kau masih saja percaya
kekasih, wajahmu yang tak ku tahu
ialah panorama gelap
yang meregangkan cahaya sukma
sama seperti dulu
ketika cahaya ialah kegelapan
dalam tiap rahim yang ku tinggali
aku menikahimu dengan sederhana
disaksikan debu dan Yang Esa
kekasih,
Muharram, 21 September 2010