Kamis, 24 November 2011

Terbaik

Terbaik

Dunia inikah yang ku nanti?
Lama-lama aku diam dalam mimpi
Hanya sampai sini kaki tertatih.

Puncakkukah ini?
Kenapa begitu dangkal aku mencari.

Mereka datang mereka pergi
Aku tak bisa gerak kanan kiri.

Inikah hidupku?
Terasa beda dengan semesta yang merayu biru.

Cintakah ini?
Kenapa dusta menganga bentuk jurang buaya
Tampar pipi dengan pipi
Tampar bibir dengan bibir
Tampar laki dengan pawestri

Terbaikkah ini?
Ketika aku tak kemana, sementara dunia
Berputar satu kali dua puluh empat jam.

(10 april 2009)

Kadang aku lupa usiamu.

Kadang aku lupa usiamu.

Sudah lima puluh lima matahari terbit-tenggelam
Kau masih saja seperti itu ;
Manis dengan senyum dan cinta penuh pada mata

Putri, aku renta.
Ya, aku renta.
Bukan lagi lagi kias maya telaga biru
Ini aku adanya. Seluruhnya.

Aku salah berkasih padamu?

Tidak, kurasa. Mimpi-mimpi siapa yang kan tergantung
Bagai hantu tanpa mati

Aku ingin merasa tanah.
Melayang membuat aku lelah.
Buat aku satu sikap. Satu.

Putri,
Kadang aku lupa usiamu.
Terlalukah aku berharap kau mengerti ?

(10 april 2009)

Adik Sayang

Adik Sayang.

Sesepinya aku menjagamu
Tak sesepi ini. ketika senyap
Merenggut percaya pada kita.

Boleh jadi malam kita ubah.
Dalam nafas diri yang bara.
Tapi sadarkah kau, adik kecilku?
Malam-malam nanti bukan hanya bulan
Yang kan hantui
Tapi banyak bintang kan bergentayangan.

Jangan ucapkan puisi matahari.
Aku jaga kau dengan sepi.
Agar tak lelah kau ditelan panasnya.

Sayang, percaya itu hilang kini
Tinggal raga abu bawa kita gerak
Maju ia sampai lenyap jadi debu riak

Mari, ku gandeng tanganmu
Erat, jangan lepas.
Aku, kami, kakakmu setia menanti senyum
Mereka yang menanti ciptamu.
16 april 2009

Kerja

Kerja!

Semangat kami belum selesai, Bang!
kerja. kerja. kerja
kerja kami jadi peluh dan nuansa

tak peduli hawa
tak peduli adam
kami peluk jadi baru

tak ragu lapuk
tak ragu reot
kami satukan jadi graha

kami kere uang
raya imaji
kami muda
penuh kobaran api.

semangat kami belum sampai, Bang!
jangan pukul rata kami dengan yang dulu.
kami generasi baru punya cerita
lebih seru. lebih debar. lebih warna dari milikmu.

Bang! pandang kami dengan cinta
bantu kami tuk wujudkan cipta
ya, Bang! kami teruskan kerja jadi nyata
lebih hebat dari punyamu dulu. pasti!


(muharram, 24 februari - 3 maret 2009)

Merapat Pagi

Merapat Pagi.

Merapat pagi aku terima gelombang.
Singkat saja ia kata
Apakabar?
Peduli ku pada mimpi saja.

Merapat pagi panggilan datang
Pria-pria bersongkok dan yang wanita
Bermukenah
Giat betul minta-minta

Ah! Aku juga lupa.
Pura-pura lupa pada percaya.

Merapat pagi
Aku rapat dengan mimpi
Aku erat birahi

Mei 09

Kridit

Kridit
Ku pinjam ajalku dari Tuhan
Lalu ku selipkan baik-baik di tumpukan buku.
Ku pilih sebuah buku tebal bersampul merah dan hitam
dengan pita emas sebagai pembatas

Yang diminta Tuhan cuma dua dari ku.
Fotocopy KTP 2 lembar dan BPKB sepeda motor
sebagai jaminan

Ku timang-timang ia tak henti tiap waktu
sambil menghitung mundur usiaku

Ah! beginikah rasanya beranak permata hati
layak inikah yang dirtasa Abraham

Dalam tiap sujud hatiku ngilu
Kepala ku berat menyunggi nadzar yang belum
tercapaikan.

-MUharram, 14 juni 09-

Kelahiranmu

Kelahiranmu


bangganya aku melihatmu lahir, sayang.
meski aku bukan satu-satunya didirimu.

aku menyayangimu sampai ke sumsumku.
aku sedih dan gembira untukmu.
tinggal lelah yang merangkul raga.

tak perlu resah,sayang.
ku ciptakan adik baru untukmu, sebentar lagi.
tunggu saja waktunya.

-muharram, untuk Kedokq- naskah orang asing

Kesalahanmu Dulu

Kesalahanmu dulu

bapak, katanya kita merdeka telah lama.
tapi kenapa aku tak merasakannya.
berjuta peluru dimuntahkan moncong-moncong serdadu.
beribu bangkai temanku terbengkalai.
beratus kantong darah mesti terisi karena ibu mati muda

kenapa aku tak rasakan merdeka?

inikah Indonesia yang Raya
inikah Indonesia yang lohjinawi.
inikah Indonesia yang berbudi.

pemimpin-pemimpin kami rebut kuasa.
wakil-wakil kami rampas darah dan tulang kita.
antek-antek mereka putar-putar jalan kami.

bapak, katanya negeri ini telah merdeka
merdeka dari apa?

kebodohan?
kemiskinan?
korupsi?
birokrat murtad?
kemunafikan pemimpin?

kenapa kau tipu kami dengan kata-kata indahmu
katakan kebenaran yang menyakitkan itu.
katalah kejujuran yang tersembunyi di dadamu.
bahwa negeri ini, Indonesia, belum layak untuk merdeka.
bahwa negeri kita, Indonesia, tak pernah icip madunya merdeka.
agar tegar langkahku. agar tegap dadaku berjuang.
merebut kemerdekaan yang ada didalam mimpi-mimpi setiap anak bangsa.

bapak, akan ku cari sendiri jalan kemerdekaan itu.
tunjukkan sajalah kesalahanmu dulu.

-muharram. 17 agustus 09-

Siapa Lebih Kesepian

Siapa lebih kesepian

Siapakah yang lebih kesepian diantara kita
kau yang pergi merangkak matahari,
atau aku yang menunggu bulan.

janji sepi hanya hampir sesaat
bukan selama ini

aku sunyi menatap awan sendiri

lihat! ada bintang disamping bulan

-muharram,09-